Home Tokoh ANALISIS: DINAMIKA SUKSESISI IRAN PASCA-GUGURNYA KHAMENEI AKIBAT SERANGAN AS-ISRAEL – PAPARAN PRABU MANGKU ALAM SILIWANGI

ANALISIS: DINAMIKA SUKSESISI IRAN PASCA-GUGURNYA KHAMENEI AKIBAT SERANGAN AS-ISRAEL – PAPARAN PRABU MANGKU ALAM SILIWANGI

42
0
SHARE
ANALISIS: DINAMIKA SUKSESISI IRAN PASCA-GUGURNYA KHAMENEI AKIBAT SERANGAN AS-ISRAEL – PAPARAN PRABU MANGKU ALAM SILIWANGI

JAKARTA,01 MARET 2026 – Gugurnya Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, dalam serangan militer Amerika Serikat dan Israel telah membuka babak baru yang penuh ketidakpastian bagi negara tersebut dan kawasan Timur Tengah secara luas. Prabu Mangku Alam Siliwangi, pengamat kebijakan luar negeri dengan fokus studi pada dinamika geopolitik kawasan, memberikan analisis mendalam terkait mekanisme suksesi, calon pengganti potensial, serta dampak yang diantisipasi.

MEKANISME SUKSESISI: ANTARA ATURAN KONSTITUSIONAL DAN REALITAS POLITIK

Menurut Prabu Mangku Alam Siliwangi, mekanisme suksesi pemimpin tertinggi Iran telah diatur secara jelas dalam Pasal 111 Konstitusi negara tersebut. "Majelis Ulama yang beranggotakan 88 ulama terpilih memiliki kewenangan mutlak untuk memilih pemimpin baru. Dalam kondisi darurat pasca-serangan seperti ini, proses seleksi diharapkan berlangsung dengan efisien guna menjaga kontinuitas stabilitas nasional," jelasnya dalam wawancara eksklusif.

Namun, ia menyoroti bahwa dinamika kekuasaan internal akan menjadi faktor penentu utama dalam hasil akhir proses ini. "Secara normatif, prosesnya terstruktur dengan baik. Namun tekanan dari berbagai faksi politik dan lembaga penting dalam negeri akan sangat memengaruhi arah perkembangan. Sebelum wafatnya, Khamenei sendiri telah membentuk komite khusus untuk menilai calon pengganti potensial, meskipun komposisi dan hasil evaluasi mereka belum diumumkan secara terbuka," tambahnya.

Prabu juga menjelaskan tata cara kepemimpinan sementara yang akan berjalan sebelum pemimpin baru resmi terpilih: "Dewan Kepemimpinan Sementara – yang terdiri dari Presiden Iran, Ketua Mahkamah Agung, dan seorang ulama dari Dewan Pemantau yang dipilih oleh Dewan Permusyawaratan Keadilan – akan menjalankan fungsi pemerintahan sehari-hari hingga proses suksesi selesai."

CALON PENGGANTI POTENSIAL: BERBAGAI FAKSI BERSAING KUASA

Prabu Mangku Alam Siliwangi mengidentifikasi tiga kelompok utama beserta figur potensial yang berpeluang menjadi pengganti Khamenei:

Kelompok Pendukung Mojtaba Khamenei

"Mojtaba Khamenei, putra almarhum pemimpin tertinggi, telah lama terintegrasi dalam struktur kekuasaan negara dan memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Ia dikenal sebagai tokoh yang konsisten dengan orientasi konservatif dan memiliki pengaruh signifikan di lingkaran kepemimpinan tertinggi," ujar Prabu.

Namun, ia juga mengingatkan tantangan yang mungkin dihadapi oleh calon ini: "Meskipun memiliki akses langsung ke jaringan kekuasaan, pencalonannya berpotensi memicu kritikan tentang munculnya dinasti politik – sesuatu yang bertentangan dengan semangat awal pembentukan Republik Islam yang digagas oleh Ayatullah Khomeini. Selain itu, ia belum pernah menjabat posisi publik yang strategis, sehingga masih perlu waktu untuk membangun legitimasi di mata seluruh rakyat Iran."

Kelompok yang Mendukung Kepentingan IRGC

Setelah wafatnya Presiden Ebrahim Raisi pada Mei 2024 – yang dulunya disebut-sebut sebagai calon utama suksesi – kelompok militer mulai mencari sosok yang dapat mewakili kepentingan mereka. "IRGC memegang peran sentral dalam keamanan nasional dan arsitektur kekuasaan Iran. Mereka kemungkinan akan mendukung figur yang konsisten dengan kebijakan konservatif serta berkomitmen untuk memperkuat peran lembaga militer dalam pembangunan negara," jelas Prabu.

Kelompok Reformis

"Kelompok reformis melihat momen transisi kekuasaan ini sebagai kesempatan untuk mendorong perubahan arah kebijakan nasional. Mereka berpotensi mendukung sosok yang terbuka terhadap dialog dengan negara Barat, fokus pada perbaikan ekonomi, dan meningkatkan ruang kebebasan sipil bagi masyarakat," paparnya. Namun, Prabu juga menegaskan bahwa posisi kelompok reformis di Iran masih relatif lemah dibandingkan dengan blok konservatif yang telah lama berkuasa.

Selain ketiga kelompok tersebut, Prabu menyebutkan adanya laporan tentang tiga ulama senior yang telah ditunjuk sebagai calon potensial oleh Khamenei sebelum wafatnya, meskipun identitas mereka belum diungkapkan. "Hal ini menunjukkan bahwa upaya untuk memastikan suksesi yang teratur telah dipersiapkan jauh sebelum peristiwa tragis ini terjadi," tambahnya.

DAMPAK SUKSESISI: DALAM NEGERI SAMPAI KAWASAN

Stabilitas Sosial dan Ekonomi

Menurut analisis Prabu Mangku Alam Siliwangi, pihak berwenang akan segera mengambil langkah untuk mengkonsolidasikan kekuasaan dan menjaga ketertiban. "IRGC dan lembaga keamanan akan meningkatkan pengawasan di seluruh negeri untuk mencegah gangguan stabilitas. Narasi kebangsaan dan agama akan digunakan untuk menyatukan rakyat, dengan menyajikan serangan AS-Israel sebagai ancaman terhadap keutuhan negara Islam Iran," ujarnya.

Dalam bidang ekonomi, ia memprediksi bahwa pemerintah akan mengambil langkah antisipatif: "Iran telah menghadapi tantangan ekonomi akibat sanksi internasional. Pasca-suksesi, pemerintah kemungkinan akan meningkatkan subsidi untuk kebutuhan dasar dan mengintensifkan kerja sama dengan Rusia serta China untuk mendapatkan dukungan ekonomi dan perdagangan."

Kebijakan Luar Negeri

Prabu menyatakan bahwa arah kebijakan luar negeri akan sangat bergantung pada faksi yang mendominasi proses suksesi. "Jika blok konservatif tetap berkuasa, sikap tegas terhadap Amerika Serikat dan Israel akan tetap menjadi landasan kebijakan. Namun jika kelompok reformis mendapatkan pijakan yang lebih kuat, mungkin akan muncul upaya untuk membangun dialog konstruktif terkait program nuklir Iran dan resolusi konflik regional," katanya.

Ia juga menambahkan bahwa kerja sama dengan negara sekutu akan menjadi fokus utama: "Rusia dan China akan tetap menjadi mitra strategis utama dalam bidang energi, keamanan, dan perdagangan. Tujuan utamanya adalah mengurangi ketergantungan pada blok Barat dan memperkuat posisi geopolitik Iran di kawasan Timur Tengah."

Dampak Regional dan Global

"Dampak paling langsung akan terasa di kawasan Timur Tengah. Ketidakpastian akibat proses suksesi berpotensi meningkatkan ketegangan antar negara kawasan, terutama dengan Israel dan negara-negara sekutu AS," jelas Prabu. Ia juga mengingatkan tentang implikasi pada pasar energi global: "Timur Tengah merupakan produsen minyak terbesar dunia, sehingga ketidakpastian dapat menyebabkan fluktuasi harga energi yang berdampak pada ekonomi global."

"Selain itu, perubahan kepemimpinan di Iran dapat memengaruhi dinamika konflik di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman – wilayah di mana Iran memiliki pengaruh strategis melalui kelompok mitra yang ada," tambahnya.

KESIMPULAN: TITIK BALIK GEOPOLITIK

Prabu Mangku Alam Siliwangi menyimpulkan bahwa proses suksesi pasca-Khamenei akan menjadi titik balik penting bagi masa depan Iran dan kawasan Timur Tengah. "Proses seleksi pemimpin baru kemungkinan akan berjalan cepat untuk menjaga stabilitas, namun persaingan antar faksi tidak dapat dihindari. Arah kebijakan yang diambil oleh pemimpin baru akan menjadi penentu utama dalam membentuk masa depan Iran dan dinamika geopolitik regional dalam jangka panjang," ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa perkembangan ini memerlukan perhatian serius dari komunitas internasional: "Stabilitas politik dan keamanan di Iran memiliki implikasi luas bagi keamanan global dan pasokan energi dunia. Upaya bersama untuk mendukung transisi yang damai dan teratur sesuai prinsip hukum internasional perlu menjadi perhatian bersama seluruh pemangku kepentingan global," pungkasnya.(red)