BIDIK PERISTIWA,1 MARET 2026 - Putra terakhir Shah Iran yang tinggal dalam pengasingan, Reza Pahlavi, telah menyampaikan pernyataan tegas menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap target di Iran – yang menurut Presiden AS Donald Trump serta beberapa pejabat asing termasuk dalam operasi yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Dalam pernyataannya yang dikutip sejumlah media internasional, Pahlavi menyebut serangan tersebut sebagai "Tirani telah tumbang dan ini awal dari perayaan nasional besar." Ia menyerukan kepada militer dan aparat keamanan Iran untuk tidak mempertahankan apa yang disebutnya sebagai rezim yang sedang runtuh, melainkan turut membantu memastikan transisi menuju "masa depan Iran yang bebas dan makmur."
Pahlavi juga memberikan pujian kepada Presiden Donald Trump terkait peranannya dalam aksi militer tersebut, menyebutkannya sebagai dukungan penting bagi perjuangan rakyat Iran.
Sebelumnya, media seperti Associated Press (AP) dan Reuters mencatat bahwa Trump telah menyatakan Khamenei tewas dalam operasi tersebut, meskipun pada saat itu sejumlah sumber belum sepenuhnya diverifikasi oleh pihak Iran. Kemudian, media pemerintah Iran mengonfirmasi kematian pemimpin tertingginya.
Pemerintah Iran telah menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari serta beberapa hari libur resmi sebagai bentuk penghormatan terhadap Khamenei yang telah memimpin negara lebih dari tiga dekade.
The Guardian melaporkan bahwa situasi di dalam negeri Iran semakin tegang setelah pengumuman resmi kematian Khamenei. Beberapa kota berada dalam pengamanan ketat, sementara reaksi publik terbelah antara suasana berkabung mendalam dan respons politik dari kelompok oposisi.
Khamenei yang menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi sejak tahun 1989 meninggal dunia setelah kompleks kediaman dan kantor pusatnya di Teheran dihantam serangan pada Sabtu dini hari (28/2/2026). Kematiannya berpotensi membuka babak baru dalam dinamika politik domestik Iran dan geopolitik kawasan Timur Tengah.
Para analis memperingatkan bahwa proses suksesi kepemimpinan akan menjadi faktor krusial dalam menentukan stabilitas negara tersebut ke depan. Perkembangan ini diperkirakan menjadi salah satu titik balik paling signifikan dalam sejarah modern Iran, dengan implikasi luas bagi hubungan regional maupun global.(red)










LEAVE A REPLY