Lempeng Banjar: Warisan rasa yang tetap hits di tengah modernisasi
jbn, BANJARMASIN– Kuliner tradisional khas Banjar, Lempeng, kembali menjadi perbincangan hangat.
Kudapan berbahan dasar tepung gandum dan pisang ini tidak hanya nikmat disantap saat cuaca dingin, tetapi juga menjadi simbol kehangatan keluarga bagi masyarakat Kalimantan Selatan dan perantau Banjar di Samarinda.
Menurut para penggemar Lempeng, kunci kenikmatannya terletak pada teknik memasak tradisional.
Proses pemanggangan yang menggunakan daun pisang sebagai alas dan dimasak menggunakan tungku kayu atau bara api memberikan aroma khas "hangit" yang wangi, berbeda jika dimasak menggunakan kompor gas modern.
"Kalau orang tua dulu, memasak lempeng itu harus pakai bara api atau tungku kayu supaya aromanya harum.
Hangitnya itu bukan hangit gosong, tapi hangit daun pisang yang membuat rasanya beda," kata Julak Amai, salah satu penggemar lempeng pisang.
Selain teknik pembakaran, variasi bahan juga menjadi daya tarik tersendiri.
Pemilihan jenis pisang seperti pisang raja atau talas yang sudah matang sempurna hingga penambahan parutan kelapa, memberikan rasa manis alami dan tekstur yang gurih serta renyah.
Meski tergolong makanan "bahari" atau kuno, Lempeng kini terus berinovasi. Di sejumlah tempat makan di Samarinda, camilan ini mulai disajikan dengan sentuhan modern.
Berbagai topping seperti keju, cokelat, dan susu kental manis kini ditambahkan, menjadikan Lempeng sering dijuluki sebagai "Pizza khas Banjar" yang digemari generasi milenial.
"Lempeng itu paling nyaman dimakan pas masih panas-panas sebagai kawan minum teh atau kopi hangat," tambah Acil Mila.
Masyarakat diingatkan untuk terus melestarikan budaya lewat kuliner.
Lempeng Banjar membuktikan bahwa kesederhanaan bahan dan proses pembuatan yang penuh cinta mampu bertahan melintasi zaman dan tetap menjadi favorit banyak orang.**
Related Articles