Jarak mengandung makna paradoksal. Ia berada diantara nisbi dan tak nisbi. Diantara yang terperinci dan tak terperinci. ‘Jarak’ antara satu kota dengan kota lain bisa diukur, namun bagaimana mengukur ‘jarak’ menyangkut hubungan sesama manusia?
Manusia adalah makhluk istimewa. Ia berpikir, bertindak dan merasa. Maka berhubungan antara sesama manusia menjadi wajib. Hakikatnya manusia diberi anugerah untuk bisa berinteraksi dengan kelompoknya ataupun mereka yang berada di luar jangkauannya. Tapi mengapa relasi personal antara suami dengan istri bisa dengan gampang buyar? Dan mengapa pula kita begitu akrab dengan gap generation antara generasi tua dengan generasi di bawahnya? Atau yang paling sederhana antara ayah dan anak? Mengapa antara yang berperan dalam melahirkan dan yang dilahirkan bisa mengalami hubungan yang ber’jarak’?
Seiring perjalanan maha panjang dari Prancis menuju Mekkah yang ditunjukkan Ishmael Ferroukhi, Le Grand Voyage pun membongkar ‘ukuran’ hubungan antara ayah dan anakanya. Ada Reda (Nicolas Cazale, seorang aktor muda dengan permainan matang), si bungsu dari keluarga muslim Maroko yang lahir dan hidup di Prancis. Dan ayahnya (Mohamed Majd) yang sudah uzur. Sang ayah meminta si anak mengantarnya menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Ini bukan sembarang permintaan, karena sang ayah meminta diantar dengan mengendarai mobil. Reda tak kuasa menolak permintaan ayahnya.
Berdua mereka mengarungi berbagai negara. Dari Balkan yang dihiasi lansekap nan dingin hingga pemandangan gurun maha luas berterik matahari. Tentu saja perjalanan ibadah biasanya disertai banyak rintangan. Rintangan terberat sang ayah adalah anaknya sendiri. Perjalanan ibadah yang panjang itu terus-menerus. Ada komunikasi yang macet dan pertentangan karakter diantara keduanya. Seperti ada tembok yang membatasi mereka. Sang anak yang sekuler ternyata sulit menerima kekukuhan sang ayah yang fokus pada tujuannya. Sang anak yang masih belia ingin mencampur perjalanan dengan wisata yang tak bisa dipahami sang ayah.
Ini jelas problem yang terjadi pada banyak orang. Dan justru inilah yang dikulik oleh Ferroukhi. Ia menghabiskan durasi film untuk membongkar hubungan tak harmonis di antara keduanya. Terbentuklah kekuatan Le Grand Voyage, sebuah perjalanan panjang yang ternyata tak hanya harus melakukan hubungan vertikal (antara manusia dengan Tuhan-nya), namun juga wajib membina hubungan horizontal (antara manusia dengan sesamanya, dalam hal ini antara ayah dan anak).
Tanpa mengumbar banyak dialog, sesungguhnya Ferroukhi ingin berbicara banyak hal. Selain fokus pada hubungan ayah–anak, ia juga membicarakan hubungan antara Barat dan Islam, Religius dan Sekuler, Materialisme dan Sosialisme, serta hubungan Kaya dan Miskin. Semua digambarkan Ferroukhi dengan menghadapkan kedua tokoh pada masalah-masalah tak terduga yang muncul selama perjalanan mereka.
Ketika ‘jarak’ akhirnya bisa ditaklukkan, setelah melalui berbagai perselisihan sepanjang jalan, keduanya pun akhirnya bisa saling mengerti. Di sinilah saatnya Ferroukhi memberi kita kejutan yang paling mengiris hati. Mekkah pun menjadi saksi betapa beratnya perjalanan yang ditempuh dan besarnya pengorbanan yang dilakukan keduanya agar bisa menyatukan hati.
Di tengah jutaan manusia yang menyebut nama Tuhan dengan khidmat, disitu pulalah Reda merasakan titik balik dalam hidupnya. ‘Perjalanan panjang’ itu menjadi awal sekaligus akhir bagi keduanya.






LEAVE A REPLY