Percayakah anda pada cinta pada pandangan pertama? Percayakah anda pada takdir? Sejauh mana anda memperjuangkan cinta? Tiga pertanyaan ini nyaris selalu ada dalam film romantis. Dan tiga pertanyaan ini memang selalu menyetir cerita hingga tiba di endingyang mudah ditebak. Jika sudah memirsa sekian banyak film dari genre ini, maka anda boleh jadi sudah imun dengan formulanya. Bagi penonton jenis ini, yang penting adalah proses, bukan hasil. Toh ia sudah hafal akan apa yang terjadi di akhir kisah.
Letters To Juliet juga tak bisa menghindar dari klise, tapi ia punya cara tersendiri untuk berkelit. Garapan Gary Winick ini lebih serius dari komedi, namun lebih ringan dari drama. Dengan demikian ia memposisikan diri di tengah-tengah. Ini suatu kompromi yang harus diambil karena kebutuhan cerita. Winick rupanya belajar dari film sebelumnya, Bride Wars (2009), yang dinilai buruk oleh kritikus. Maka ia mengagungkan cerita dan memulai segalanya dari sana.
Untungnya Winick punya kisah yang menarik. Ada sebuah tempat di Verona, Italia, dimana perempuan dari berbagai penjuru dunia berdatangan dan menulis surat kepada Juliet. Ya, Juliet yang dimaksud tentu Juliet dari kisah klasik karya William Shakespeare, Romeo & Juliet. Mereka menulis surat di sana, berkeluh kesah, mengadukan isi hati hingga menggantungkan harapan padanya. Sophie (Amanda Seyfried) liburan di negeri pizza itu bersama tunangannya, Victor (Gael Garcia Bernal). Tak sengaja, ia mendapati sebuah surat lusuh. Rupanya surat itu ditulis lebih dari 50 tahun silam. Ia terkesima membaca surat itu, Sophie pun membalasnya. Siapa sangka si empunya surat, Claire (Vanessa Redgrave) bersama cucunya, Charlie (Christopher Egan) mendatanginya dari London. Claire rupanya masih tak bisa melepaskan masa lalu. Pernah ia jatuh hati pada lelaki tampan bernama Lorenzo Bartolini (Franco Nero) dan membekas di hati. Itulah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama. Sayangnya hubungan mereka putus di tengah jalan. Sophie pun menawarkan diri mengantarkan Claire yang kini telah di usia senja mencari sang pujaan hati.
Romantis bukan kisahnya? Ini memang dongeng modern. Dan seperti kebanyakan film romantis yang berhasil, Letters To Juliet juga mencoba mengaburkan batas antara fiksi dan realitas di mata penontonnya. Harapannya tentu saja penonton bisa percaya bahwa dongeng seperti ini bisa dialami siapa saja, kapan, dan dimana saja. Didukung Jose Rivera dan Tim Sullivan dalam menyusun skenario, sepertinya kali ini Winick boleh tersenyum. Ia berhasil membuat penonton betah menyaksikan pencarian Claire akan Lorenzo.
Jika pernah membaca kisah hidup Redgrave, sesungguhnya kisah yang dialaminya sungguh mirip dengan yang pernah dirasakan Claire. Yang lebih terasa seperti kebetulan karena Redgrave mengalaminya dengan Nero yang juga bermain di sini. Tahun 1967 menjadi catatan penting bagi keduanya, ketika mereka bertemu di lokasi syuting Camelot (1967). Redgrave menjadi Guinevere sementara Nero sebagai Lancelot. Klop bukan? Maka wajar jika terjadi percikan asmara diantara keduanya. Mereka pun jatuh cinta. Dan boleh percaya boleh tidak, Redgrave dan Nero baru menikah setelah berpisah 40 tahun lamanya.
Namun sesungguhnya ada problem yang lebih penting yang diungkap oleh Letters To Juliet. Tentang bagaimana mengerti pasangan dan keberanian berani mengungkapkan isi hati. Hidup memang tak pernah bisa direncanakan, karena ada Dia Yang Maha Mengatur. Maka ikutilah angin takdir kemana pun bertiup.






LEAVE A REPLY