Tahun 2022. Pesantren tak lagi disimbolkan sebagai tempat suci. Sejumlah film Indonesia dengan berani memperlihatkan bahwa pesantren, sebagaimana tempat lainnya, juga bisa digunakan untuk mempersekutukan Tuhan.
Selain Qodrat, Qorin juga bisa dipujikan atas keberanian ide ceritanya yang mengedepankan soal pesantren yang selain tempat menimba ilmu baik, ternyata juga bisa disalahgunakan untuk menimba ilmu hitam, mempraktikkannya sekaligus menggunakannya untuk kepentingan keji.
Sutradara Ginanti Rona dengan percaya diri menjadikan santriwati dan ustadzah sebagai hero dalam semesta cerita yang dibangunnya. Bahu membahu dengan Lele Leila [yang juga menulis skenario film Indonesia terlaris sepanjang masa, KKN di Desa Penari], Ginanti memberi kesegaran dengan cerita-cerita horor yang menjenuhkan dengan penampakan setan/hantu perempuan. Menolak keseragaman, keduanya membangun ceritanya di sebuah pesantren di pelosok Jawa Barat, sebuah tempat dimana kebaikan dan kejahatan bersitegang dalam jangka waktu panjang.
Sebelum kedatangan Yolanda, pesantren yang diasuh Ustadz Jaelani tampak normal sebagaimana pesantren lainnya. Suasananya tenang dan damai. Kegiatan diisi dengan ibadah demi ibadah dari matahari terbit hingga menjelang dinihari. Zahra yang menjadi ketua angkatan juga percaya bahwa pesantren tempat mereka menimba ilmu aman-aman saja.
Tapi sesungguhnya kegelisahan diam-diam menjalar di pori-pori para santriwati. Keanehan demi keanehan mulai terjadi sejak menghilangnya Sri, salah satu santriwati, tanpa jejak. Rahasia bertebaran di udara tanpa ada yang berani membuka mulut mengungkapkannya. Mereka menutup kegelisahan, menutup ketakutan, memelihara segala hal yang membuat mereka kerap kali bermimpi buruk.
Dan mimpi buruk mungkin memang bukan sekedar bunga tidur. Ia adalah jelmaan dari ketakutan yang dipelihara dalam bawah sadar, menunggu sumbunya untuk diledakkan. Mimpi demi mimpi terus berdatangan bersamaan dengan teror demi teror yang menyergap perlahan. Perlahan cahaya kebaikan dari pesantren itu tertutupi oleh aroma kegelapan yang sudah mendekam sejak lama. Zahra semakin gelisah, Yolanda semakin khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi dan tak ada seorang pun yang menyangka bahwa aroma kegelapan itu disemburkan oleh seseorang yang mereka hormati.
Maka Qorin yang bisa disaksikan di Netflix ini mencoba berdakwah dengan cara yang menarik. Memperlihatkan bahwa kepatuhan buta tak perlu terus menerus dipelihara sekiranya di depan mata ada bahaya yang tercium mengancam. Yolanda semakin waspada namun ia sadar posisinya sebagai “orang baru”. Maka ia berharap Zahra yang menjadi panutan bagi santriwati berani untuk melawan.
Tapi perlawanan terhadap seseorang yang dianggap sebagai panutan adalah sebuah ikrar pemberontakan. Zahra dan Yolanda adalah sesama perempuan yang seringkali menganggap diri mereka sebagai makhluk lemah. Tapi Yolanda tak mau menyerah pada keadaan. Ia berdiri tegak dan memilih untuk melawan.
Qorin bukan film horor dengan kesempurnaan skenario, ia hadir dengan banyak lubang namun selalu bisa diselamatkan oleh kejernihan penuturan dari Ginanti. Sebagai sesama perempuan, ia berpihak pada perempuan-perempuan di ceritanya untuk berani maju merangsek, berkelahi bila perlu, jika bahaya memang sedekat maut. Sinematografinya pun tak sempurna, seringkali dipersulit dengan set lokasi yang kurang sedap dipandang mata. Tapi Ginanti sepertinya percaya penuh dengan ceritanya dan bersandar betul padanya.
Ginanti juga percaya pada aktor-aktornya yang membawa cerita ini mengalir lancar dari awal. Aghniny Haque dan Zulfa Maharani bermain padu, saling bahu membahu membawa alur film tetap terpelihara di jalur semestinya. Karena akting yang pas membuat kita percaya bahwa Yolanda dan Zahra adalah perempuan-perempuan pemberani yang masih bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka ada di sekeliling kita, bisa jadi adalah kakak, adik atau saudara kita. Mereka yang muak untuk terus dibungkam dan akhirnya bangkit melawan.
Maka kita akan melihat kali ini seorang ustadz menjadi seseorang terkutuk di film Indonesia. Seseorang yang sepatutnya dihormati karena ilmunya namun memanfaatkannya untuk jalan sesat. Dan beruntunglah Zahra dan Yolanda yang bisa berlindung dari godaan ustadz terkutuk itu. Dan beruntunglah kita bahwa film horor dengan campuran religi masih bisa berkelit dari kutukan keseragaman. Meski tak sempurna upaya dari Ginanti dan IDN Pictures dengan cerita ini sungguhlah patut dihargai.






LEAVE A REPLY