Home FILM Melihat Perspektif Barat Soal Shiratal Mustaqim

Melihat Perspektif Barat Soal Shiratal Mustaqim

Film Sirat [2025] - Tayang di Klik Film

55
0
SHARE
Melihat Perspektif Barat Soal Shiratal Mustaqim

Tahun 2025. Dalam waktu berdekatan 2 film dengan tema mirip namun dengan kualitas bagai bumi dan langit dirilis di bioskop. Satunya dari Indonesia berjudul Jembatan Shiratal Mustakim [bisa ditonton di Netflix] dan satunya dari Spanyol berjudul Sirat.

Keduanya mencoba menyoal jembatan shiratal mustakim yang dalam pemahaman umat Islam adalah jembatan yang terbentang di atas neraka menuju surga. Manusia akan melewatinya dengan kecepatan berbeda-beda (secepat kilat hingga merangkak) sesuai amal ibadah mereka. Beberapa hadist menggambarkan jembatan ini lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang.

Tapi kita tidak akan membicarakan film yang disebut pertama. Dalam tulisan ini kita akan fokus membahas Sirat dari sutradara Oliver Laxe yang jadi nominee Film Berbahasa Asing di Academy Awards tahun ini. Tahun lalu film yang sama membawa piala Jury Prize dari Cannes Film Festival. Dengan metafora seambisius ini bisakah Oliver menyampaikan visinya ke penonton dengan baik?

Saya pribadi terpana saat film dibuka dengan keterangan soal jembatan Shiratal Mustaqim tersebut. Belum pernah saya membayangkan film se-sekuler Sirat dengan tanpa satu pun karakter Muslim di dalamnya membawa referensi tersebut. Maka saya membiarkan diri saya masuk ke semesta yang dirakit Oliver, membiarkan diri saya masuk ke dalam cerita dan drama dan badai yang menggulung-gulung dan terpontang-panting mencari tahu relasi antara Shiratal Mustaqim dengan cerita ini.

Di antara dentuman musik tekno yang menggelegar, di tengah ratusan orang yang menikmati musiknya tanpa peduli sekeliling, di tengah gurun yang sepi tanpa apapun di sekitarnya, kita bertemu dengan Luis bersama putranya. Keduanya tak datang ke pesta itu untuk menikmati musik atau sekedar mencicipi LSD. Keduanya datang nyaris dalam keputusasaan. Luis mencari putrinya yang hilang, Marina, dan berusaha mencarinya dari pesta ke pesta. Lantas Luis bertemu dengan karakter-karakter lain yang nyentrik di pesta itu: ada Steff, Josh, Bigui, Tonin dan Jade. Kesemuanya sesungguhnya terlihat tak peduli dengan keberadaan dan niat Luis hingga kenekatan Luis membuat mereka semua terhubung dalam sebuah petualangan yang menggetarkan hati.

Oliver mencoba menarik diri kita ke dalam Sirat untuk terhubung dengan beragam perasaan: keputusasaan, keterasingan, kenekatan dan bagaimana kita sesama manusia saat berada dalam situasi hidup-mati. Petualangan panjang yang dialami Luis dkk yang diibaratkan oleh Oliver sebagai Shiratal Mustaqim ini memang luar biasa mencekam. Oliver menggambarkan Steff, Josh, Bigui, Jade dan Tonin sebagai pendosa yang akan berhadapan dengan perbuatannya saat berada di tengah gurun yang dipenuhi ranjau. Psikoanalisis hingga sufisme berkelindan di antara kengerian dan ketakutan mereka melintasi gurun tersebut. Oliver yang bukan Muslim mencoba memaknai Shiratal Mustaqim dari perspektif yang dipahaminya dan meski tak seperti yang kita bayangkan dari sudut pandang Islam namun paling tidak Oliver memahami esensinya. Bahwa di suatu hari kelak, saat dunia berhenti berputar, matahari berhenti terbit dari timur, semua manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar dan diadili atas perbuatannya di muka bumi. Mereka yang berbuat baik selama hidupnya akan dengan mudah melintasi jembatan Shiratal Mustaqim sementara mereka yang menyia-nyiakan hidupnya akan terus jatuh dan terjatuh.

Meski menggetarkan dan penuh perenungan, saya masih mencari-cari alasan mengapa Sirat begitu dipuji-puji di banyak festival prestisius. Saya sepakat dengan Peter Bradshaw dari The Guardian yang menganggap Sirat sebagai “most overpraised film of the year”. Peter menambahkan bahwa Sirat itu “exasperating and bizarre in ways that become less and less interesting and more and more ridiculous as the film wears on.” Saya bisa mengerti mengapa Peter bisa memberi kritik tajam sedemikian, bisa jadi karena ia tak memahami makna Sirat itu sendiri. Dan banyak dari kita pun termasuk mereka yang memahami Islam lebih dalam akan sulit menemukan maknanya di film ini.

Tapi memang film bisa dimaknai dengan 1001 cara oleh 1001 penonton. Karena menonton film tak bisa steril dari referensi si penonton. Kita tak bisa menjauhkan diri dari pengalaman pribadi kita saat menonton film. Karena secara alamiah kita akan mencari relevansi dan keterikatan tertentu. Bisa jadi kita akan dengan mudah menemukannya, bisa jadi pula kita akan kesulitan menemukannya, mencoba mencarinya di tengah jerami subteks. Tapi seorang pembuat film juga berhak untuk menyodorkan pandangannya ke seluruh dunia akan sebuah hal melalui film. Dalam hal ini Oliver bisa jadi menawarkan diskursus menarik untuk melihat bagaimana perspektif Barat dan Islam bisa berkelindan, bisa saling menawarkan solusi dan makna dalam sebuah cerita. Sampai di sini bisa jadi Oliver berhasil.

Saya sepakat bahwa film memang seharusnya menawarkan ide-ide yang bisa dikaji ulang, menawarkan ide-ide yang bisa dikuliti untuk lantas diinterpretasi ulang. Karena itu artinya si pembuat film sangat menghormati penontonnya dengan menyodorkan pemikiran-pemikiran menantang yang butuh untuk tak sekedar ditelan begitu saja namun untuk ditelusuri lebih jauh. Oliver bisa jadi sudah berada di level di mana ia membuat film bukan sekedar sebagai medium bercerita namun juga untuk menguji sejumlah perspektif yang menggelisahkannya. Dan dalam hal ini Sirat sangat berhasil.

 

SIRAT

Produser: Agustin Almodovar, Pedro Almodovar, Domingo Corral, Xavi Font, Oliver Laxe, Oriol Maymo, Mani Mortazavi, Cesar Pardinas, Andrea Queralt

Sutradara: Oliver Laxe

Penulis Skenario: Santiago Fillol, Oliver Laxe

Pemain: Sergi Lopez, Bruno Nunez Arjona, Stefania Gadda

Video Terkait: