Tahun 1998. Soeharto mengundurkan diri sebagai Presiden setelah menjabat selama 32 tahun sebelumnya dan lima bulan sebelumnya kita bertemu dengan sebuah kapal megah dan mewah bernama Titanic.
Selain Firaun, salah satu simbol kesombongan yang bisa jadi selalu diingat orang adalah Titanic. Sebuah kapal megah berbobot 52 ribu ton dengan panjang 269 meter dan lebar 28 meter dan mampu mengangkut 2244 penumpang. Sebuah kapal berjulukan “kapal impian” dan juga “kapal yang tak bisa tenggelam”. Dan mungkin karena pujian demi pujian itulah membuat Titanic hanyut dalam lautan kesombongan.
Dua puluh lima tahun sejak dirilis pertama kali di bioskop termasuk di Indonesia, “Titanic” dirilis kembali di bioskop. Kali ini dengan teknologi 4K dan kecanggihan 3D dan saya menontonnya di layar super lebar bernama IMAX. Dan “Titanic” masih mengagumkan, masih menggugah dan masih senantiasa mengingatkan kita perihal kesombongan manusia.
James Cameron berbicara soal kelas, cara pandang borjuis kepada kaum [yang dianggapnya] di bawahnya, juga soal bagaimana cinta mampu mengalahkan kelas dan kesombongan. Dan semuanya terwakili melalui kisah cinta yang mungkin terasa berlebihan di masa kini namun karena kita masih menontonnya 25 tahun kemudian artinya kisah cinta ini juga sudah teruji oleh waktu.
Maka kita bertemu seorang pemberontak dari kaum borjuis. Seorang perempuan muda nan cantik, menghargai karya seni bercitarasa tinggi seperti Picasso hingga Degas dan tak pernah gentar menyuarakan apa yang dianggapnya benar. Rose DeWitt Bukater terasa seperti terlahir di zaman yang salah dengan segala pemikiran dan terutama idenya soal kebebasan. Tapi tentu saja setiap zaman selalu punya pemberontak, juga di setiap kelas.
Dan di kelas berbeda, pemberontak lainnya bernama Jack Dawson. Pemuda nan ganteng, percaya pada semesta atas apa yang akan terjadi dengan hidupnya kelak dan menghabiskan waktu untuk bertualang dari satu kota ke kota lain dari waktu ke waktu. Dan semesta mempertemukan keduanya di sebuah kapal bernama RMS Titanic.
Kisah cinta Jack dan Rose tentu saja fiktif namun James membuat kita percaya bahwa bisa saja cerita tersebut memang terjadi pada setiap zaman. Dan kali ini kisah cinta tersebut mendapatkan momentum ketika keduanya bertemu sesaat sebelum RMS Titanic menabrak gunung es, menghanyutkan seluruh isinya, mengakibatkan kematian lebih dari 1500 orang dan tenggelam hingga ke kedalaman lebih dari 3800 meter.
Rose dan Jack adalah dua anak muda yang ingin melawan takdir dan percaya bahwa nasib mereka tak akan diputuskan oleh garis keturunan atau jumlah kekayaan orangtua mereka. Rose dan Jack adalah dua anak muda yang percaya pada kemurnian cinta dan mencoba memperjuangkan cinta hingga akhir hayat. Jika pun Jack tak meninggal karena kedinginan terapung di tengah lautan, toh kita sebenarnya tahu cinta mereka sesungguhnya tak akan bertahan. Dan kemurnian cinta mereka diselamatkan oleh kematian. How romantic.
Sesekali kita memang perlu menjadi romantik. Di tengah dunia yang bergerak tergesa, serba cepat dan kadang tak mengindahkan lagi soal isi, romantisme mungkin diperlukan untuk mengisi bagian hati yang terasa hampa selama beberapa waktu. Di tengah dunia yang melulu berbicara soal materialisme, romantisme adalah penyelamat bahwa cinta tak memerlukan ukuran-ukuran tertentu. Ia perlu berjalan di tengah ketidakpastian, perlu menarik nafas di tengah sesaknya kita pada penat duniawi dan kita memerlukannya untuk memberitahu kita adalah manusia, bukan benda yang bisa dibeli.
Maka “Titanic” menjadi jendela bagi James untuk menjelaskan segala pergesekan. Dan ketika RMS Titanic menggesek gunung es dan membuat air laut tumpah ruah ke dalamnya, kita melihat James membongkar segala kesombongan, kemunafikan dan segala hal materialistik saling bergesekan. Rose dan Jack tak peduli dengan segala pergesekan itu dan hanya percaya bahwa cinta mereka nyata dan tak terpisahkan.
Dan setelah 25 tahun berlalu sejak “Titanic” pertama kali diputar, kita masih tergugah dengan detik-detik menjelang para korban dijemput malaikat maut. Saya menangis ketika melihat seorang ibu menidurkan dua anaknya, pasangan lanjut usia dengan raut wajah ketakutan berpelukan di ranjang dan kapten kapal yang gagah berani ikut tenggelam di dalam kapal yang konon “tak bisa tenggelam”. Dan entah 25 tahun yang akan datang, setelah kembali menonton “Titanic” dengan teknologi terbaru, mata kita mungkin masih akan berkaca-kaca setelah membaca puisi Heroes of the Titanic dari Henry Van Dyke.
Honour the brave who sleep
Where the lost "Titanic" lies,
The men who knew what a man must do
When he looks Death in the eyes.
"Women and children first,"—
Ah strong and tender cry!
The sons whom women had borne and nursed,
Remembered,—and dared to die.
The boats crept off in the dark:
The great ship groaned: and then,—
O stars of the night, who saw that sight,
Bear witness, These were men!
TITANIC
Produser: James Cameron, Jon Landau
Sutradara: James Cameron
Penulis Skenario: James Cameron
Pemain: Leonardo DiCaprio, Kate Winslet, Billy Zane






LEAVE A REPLY