Tahun 2022. Dunia film kembali bergairah setelah diterjang pandemi selama 2 tahun dan kita melihat dua sineas terkemuka Hollywood tengah menulis surat cinta untuk sinema.
Yang pertama adalah sutradara kawakan, Steven Spielberg, yang mereka ulang kisah hidupnya yang menjadikan film sebagai pusat semestanya dalam “The Fabelmans”. Kita melihat bagaimana Sammy terpukau ketika menemukan film dan menganggap sebagai sebuah keajaiban.
Saya pun menemukan sinema di usia terbilang muda. Dari garis darah keluarga saya belum ditemukan seorangpun yang meniti karir di industri hiburan. Tapi pengaruh semesta menjadikan saya mencintai film sejak masih berusia 10 tahun. Saya selalu merengek minta ditemani orang dewasa demi bisa menyaksikan film di bioskop. Dan selama 2 jam saya ditarik ke dalam sebuah dunia lain dimana saya bisa melihat, mendengar dan merasakan kehidupan orang lain.
Dan setelah Spielberg datanglah Damien Chazelle. “Babylon” menjadi surat cinta keduanya untuk sinema setelah “La La Land” yang sukses besar sekitar tujuh tahun lalu. Tapi kali ini ia datang dengan ambisi lebih besar, mimpi lebih besar dan ego yang lebih besar. Dan mewujudlah “Babylon” yang kaotik, riuh, vulgar dan sesekali terasa over the top. Tentu saja semuanya punya maksud. Damien ingin kita melihat Hollywood dengan segala dosa-dosanya.
Bagi sebagian orang, Hollywood adalah tempat mewujudkan mimpi. Jika saja saya memutuskan berkarir di film di usia yang jauh lebih muda, mungkin saya pun punya mimpi yang sama: menaklukkan perfilman melalui Hollywood. Tapi Hollywood di “Babylon” adalah Hollywood hampir 100 tahun silam. Begitupun kita masih bisa melihat bagaimana mimpi-mimpi tercipta, doa-doa dipanjatkan dan beterbangan di udara dan pada akhirnya mimpi-mimpi itu terwujud.
Dan kesemua mimpi-mimpi itu terhubung dalam sebuah pesta yang liar dan riuh. Manny Torres yang mengantarkan gajah ke rumah sang eksekutif penyelenggara pesta sebagai salah satu atraksi bertemu tak sengaja dengan Nellie LaRoy. Si pemuda naif yang bermimpi bekerja di industri film bertemu dengan gadis yang tahu betul sejak awal bahwa ia terlahir sebagai bintang. Dengan segala kerusuhan yang terjadi sepanjang pesta berlangsung, keduanya berkenalan dan akhirnya terhubung. Dan dalam pesta itu kita juga akan bertemu dengan superstar Hollywood, Jack Conrad. Takdir mempertemukan ketiganya dan mimpi-mimpi yang sudah lama dipupuk oleh Manny dan Nellie akhirnya terwujud.
Lalu Damien membawa kita masuk ke dunia yang sesungguhnya ingin ia ceritakan lebih banyak: sinema. Kita diajak masuk ke berbagai sisi lokasi syuting dengan segala riuh rendahnya. Bagi yang memang berkarir di dunia film seperti saya, tentu saja ini adalah sebuah petualangan menarik. Kita akan bertemu dengan figuran yang diperlakukan tak layak, sutradara yang gemar bersumpah serapah, set lokasi yang acakadul hingga katering yang sama sekali tak layak untuk figuran. Tapi betapapun kaotiknya, kita melihat kecintaan yang besar untuk mempersembahkan yang terbaik untuk sinema.
Kita juga akan melihat bagaimana para aktor bekerja. Ada Nellie yang baru pertama kali berakting di depan kamera namun terlihat sudah sangat pro dalam soal akting. Ia bisa menari-nari, merayu, marah-marah dan menangis dalam sejentik jari sang sutradara. Kita juga melihat Jack yang hobi mabuk bahkan ketika berada di lokasi syuting pun bisa sedemikian profesionalnya ketika kamera sudah mulai bergerak merekamnya.
Tapi di luar itu semua “Babylon” memperlihatkan bagaimana seharusnya tim dalam film bekerjasama. Film seringkali menuntut kesempurnaan dalam kadar yang tak masuk akal dan menuntut semua yang bekerja di dalamnya menunjukkan profesionalisme dalam level paling ekstrim. Sering sekali kami bekerja hingga lebih dari 12 jam sehari, sering sekali kami tetap merekam gambar hingga adzan subuh berkumandang. Tapi kecintaan pada sinema selalu membuat kami kembali berkarya, menghasilkan film yang bisa ditonton dan kelak diapresiasi oleh masyarakat.
Ada saat di mana saya mendengar salah satu sutradara yang paling saya kagumi, Francis Ford Coppola, berkata seperti ini. “I think cinema, movies and magic have always been closely associated. The very earliest people who made film were magicians.” Saya pun percaya bahwa film adalah sihir. Dan ketika menyaksikan “Babylon” selama lebih dari 3 jam, saya seperti terhipnotis oleh sihir dan lupa bahwa saya berada di bioskop di Tangerang Selatan, bukan di lokasi syuting di Hollywood, Amerika.
BABYLON
Produser: Olivia Hamilton, Marc Platt, Matthew Plouffe
Sutradara: Damien Chazelle
Penulis Skenario: Damien Chazelle
Pemain: Diego Calva, Margot Robbie, Brad Pitt






LEAVE A REPLY