Home FILM Dongeng Tentang Kebahagiaan

Dongeng Tentang Kebahagiaan

Film Happy Tears [2009]

18
0
SHARE
Dongeng Tentang Kebahagiaan

Bagaimana mendefinisikan kebahagiaan? Jika hal itu ditanyakan pada psikolog, bisa jadi mereka mengangkat bahu. Pada akhirnya definisi kebahagiaan itu tergantung masing-masing orang. Tak ada parameter yang bisa mengukurnya, kecuali diri sendiri. Seseorang dengan iman yang ketat merasa berbahagia ketika bisa bertemu Tuhannya setiap saat. Sementara seorang lainnya berbunga-bunga ketika membeli sepasang boots dengan harga 2800 dollar! Jayne (Parkey Posey) adalah orang itu. Kebahagiaan dicapainya dengan membeli sepatu super mahal itu, sekaligus membuatnya pantas dilabeli sebagai seorang yang egois. Bagaimana tidak, ia membeli sepatu itu hanya sesaat sebelum mengunjungi ayahnya, Joe (Rip Torn) yang sedang sakit. Kakaknya, Laura (Demi Moore) harus berteriak di telepon demi memintanya datang ke Pittsburgh.

Sang ayah mengidap penyakit serius, salah satu jenis dementia (penyakit kejiwaan). Kondisi yang membuat ayah mereka sering sekali berada dalam keadaan tak sadar dan membuat kedua putrinya khawatir. Namun sakit sang ayah ditanggapi berbeda oleh keduanya. Laura menganggap ayahnya sakit keras, sementara Jayne melihat bahwa ayahnya baik-baik saja. Pelan-pelan kelihatan perbedaan karakter keduanya. Laura seorang yang realistis, sementara Jayne seperti hidup dalam dunianya sendiri dengan imajinasinya akan kebahagiaan dan kesempurnaan hidup.

Apalagi Laura dan Jayne menjalani hidup berbeda. Laura harus bekerja keras menghidupi keluarganya, sementara Jayne dengan gampang mengeluarkan uang karena punya suami kaya. Lantas apakah Happy Tears akan memperlihatkan perbedaan status di antara kedua saudara itu? Tidak juga. Atau apakah Happy Tears akan mempertontonkan bagaimana kedua saudara itu berjuang merawat ayah mereka? Tidak juga. Happy Tears mengambil arah yang sama sekali berbeda dari yang dibayangkan penonton. 

Sesungguhnya setiap film selalu berangkat dari teori yang sama. Seseorang ingin mendapatkan sesuatu, namun selalu mendapat rintangan, walaupun di akhir kisah meski harus dengan bersusah payah ia akan mendapatkannya. Ketika memirsa film yang dibesut sutradara Mitchell Lichtenstein itu, teori itu tak ada disana. Ah, lantas apa yang sebenarnya ingin dihidangkan di dalamnya?

Ternyata Happy Tears merupakan film yang menjual konsep. Lebih tepat dikatakan sebagai ‘sebuah dongeng tentang kebahagiaan’. Dan Jayne yang hidup dalam imajinasinya sendiri itulah yang menjadi fokus film ini. Film tak dituturkan lurus, berselang-seling dengan flashback juga ungkapan imajinasi Jayne. Sungguh penuh resiko mengambil pola pendekatan dalam film dengan tema yang sebenarnya konvensional ini. Akhirnya Happy Tears memang tak berhasil.

Tak berhasil sebagai tontonan eksperimental, tak lantas membuat Happy Tears juga harus dibuang begitu saja ke tempat sampah. Ia masih punya jajaran pemain yang hampir seluruhnya berakting cemerlang. Posey yang dikenal sebagai ratunya film independen kembali menunjukkan kelasnya sebagai perempuan egois, namun justru membuat kita jatuh iba padanya. Moore pun sama brilyannya mengartikulasikan sosok saudara perempuan yang diam-diam iri pada segala keberuntungan yang dimiliki adiknya. Meski berfokus pada Posey, sesungguhnya Rip Torn-lah yang menjadi bintang dari film ini. Nyaris tanpa cela ia memainkan sosok seorang ayah yang mulai pikun. Tak ada gerak yang terlihat kaku di badannya, tak ada intonasi suara yang terdengar keliru keluar dari tenggorokannya. Semuanya serba pas dan mengukuhkannya sebagai aktor senior yang harusnya mendapat apresiasi.

Ke-konvensional-an Happy Tears juga terletak di keberpihakannya pada tema kehangatan keluarga. Rasanya sungguh jarang melihat film Amerika yang memperlihatkan sang anak yang jauh-jauh terbang ke kampung halaman demi merawat sang ayah. Ada nilai tradisional terselip di dalam niat untuk bereksperimen. Maka meski Happy Tears tak berhasil, paling tidak ia memperlihatkan sebuah dongeng tentang kebahagiaan yang bisa jadi telah menjadi ‘barang langka’ di jaman yang semakin menjadikan orang hanya peduli pada diri sendiri. Seperti Jayne.

Video Terkait: