Tak banyak sutradara yang dikenal dengan gayanya yang individual. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Robert Altman. Jika mencermati karyanya mulai dari M.A.S.H (1970), Nashville (1975), The Player (1992), Short Cuts (1993), hingga Gosford Park, kelihatan bahwa film–film karya Altman penuh unsur spontanitas. Mungkin bisa dibilang karya–karya eksperimental. Memang sempat beredar kabar di banyak media, bahwa seringkali Altman melakukan syuting tanpa skenario, hanya berbekal treatment (garis besar cerita) semata. Serombongan artis dikumpulkan, diberitahukan perannya dan dimintanya untuk menafsirkan sendiri sesuai interpretasi masing–masing. Dialog–dialog yang terbangun muncul begitu saja, tanpa perlu susah payah dihafal sang bintang. Sungguh sebuah cara membuat film dengan pendekatan sinting dan sangat beresiko, tapi disitulah letak kejeniusan Altman. Boleh percaya atau tidak, nyaris tak satupun karyanya berkualitas rendahan!
Kelebihan lain Altman adalah mengumpulkan seabrek pemain papan atas dalam satu layar. Di Gosford Park, ia memasang Kristin Scott Thomas, Ryan Philippe, Helen Mirren hingga Maggie Smith. Formula eksperimental dan full of stars ditiru mentah–mentah oleh Steven Soderbergh di Full Frontal. Ia menampilkan Julia Roberts, Brad Pitt, Catherine Keener, David Duchovny, David Hyde Pierce, dan Blair Underwood. Sayangnya, Soderbergh bukanlah Altman. Alhasil, Full Frontal justru kebingungan menentukan arah dan menyaksikan Full Frontal bagi penonton sama dengan mengundang sakit kepala.
Sebegitu parahkah Full Frontal? Sebenarnya, kisah film ini tak terlampau rumit. Full Frontal hanya ingin mengisahkan rumah tangga Carl (David Hyde Pirce) dan Lee (Catherine Keener). Lee ternyata terlibat asmara terlarang dengan Calvin (Blair Underwood), aktor kulit hitam yang cukup sukses. Digambarkan Calvin sedang dalam produksi film berjudul Rendesvouz, dimainkannya bersama Francesca Davis (Julia Roberts). Yang memusingkan bagi penonton awam adalah gaya bertutur Soderbergh dengan editing yang sengaja dibuat tidak rapi, entah dengan tujuan apa (mungkin inilah pengertian eksperimental versi Soderbergh). Belum lagi pemakaian adegan yang diambil dengan dua jenis kamera: handycam dan kamera 35 mm --yang lazim dipakai untuk membuat film layar lebar (kentara betul perbedaan kualitas gambarnya!). Tapi untuk yang terakhir ini, Soderbergh rasanya punya alasan tersendiri. Gambar yang disyut dengan handycam menampilkan kejadian sehari–hari sedang yang tampak lebih soft adalah bagian dari film berjudul Rendesvouz tadi. Kalau bagian yang ini dikatakan eksperimental, bolehlah. Rasanya bisa dimengerti alasan Soderbergh menggunakan handycam, mungkin agar terlihat lebih realitis saja.
Yang terlihat mubazir di Full Frontal adalah pendekatan naratif yang nekat dipergunakan Soderbergh. Di beberapa bagian, boleh jadi narasi memang perlu untuk menjelaskan karakter tokoh, namun di banyak bagian lain, narasi yang ditampilkan nyaris hanya seperti omong kosong belaka, omongan tak jelas yang justru menganggu struktur cerita.
Seberapapun hebatnya Soderbergh yang memanaskan Cannes dengan Sex, Lies, & Videotape (1989) dan memuluskan jalan Julia Roberts mendapatkan Oscar berkat Erin Brockovich (2000), Full Frontal tetap terlihat seperti film yang dibuat oleh mahasiswa sebagai tugas akhir. Langkah yang terlalu berisiko telah diambil Soderbergh dengan film ini. Semoga ia tak mencoba mengulangi ‘kenakalan’ seperti ini di kemudian hari.






LEAVE A REPLY