Home FILM Detektif, Tersangka dan Obsesi di Antara Keduanya

Detektif, Tersangka dan Obsesi di Antara Keduanya

Film Decision to Leave [2022]

13
0
SHARE
Detektif, Tersangka dan Obsesi di Antara Keduanya

Tahun 1962. Untuk pertama kalinya Korea Selatan mengirim film secara resmi ke Academy Awards dan butuh 57 tahun hingga akhirnya film dari negeri ginseng itu berhasil penghargaan tertinggi di industri film, piala Oscar.

Di penyelenggaraan Academy Awards yang ke-35, Korea Selatan untuk pertama kalinya mengirim film berjudul “My Mother and the Roomer” karya Shin Sang-Ok. Filmnya bercerita tentang seorang seniman dari Seoul mengunjungi janda almarhum temannya di pedesaan. Hubungan antara istri teman, ibunya, dan si seniman digambarkan dengan mengacu pada kekhawatiran mereka tentang ketidaksetujuan sosial. Setelah tahun 2000, Korea Selatan mengirimkan film secara rutin setiap tahunnya ke Academy Awards untuk berkompetisi di kategori Best International Feature Film.

Barulah di tahun 2018 atau 56 tahun sejak pengiriman pertama, Korea Selatan berhasil masuk dalam daftar pendek. Dan setahun setelahnya “Parasite” membuat sejarah dengan menjadi film Korea Selatan pertama yang didaulat sebagai Film Terbaik di Academy Awards.

“Decision to Leave” mencoba meneruskan tradisi tersebut. Meski hanya berhasil sampai pada daftar pendek di Academy Awards, setidaknya karya Park Chan-wook tersebut kembali mengukuhkan kecemerlangan sinema Korea Selatan. “Decision to Leave” berjaya di Cannes Film Festival, Critics Choice Awards, Golden Globe dan BAFTA Awards.

Dalam beberapa tahun terakhir, kita diserbu budaya populer dari Korea Selatan dengan sangat agresif. Dari musik, kuliner hingga film. Dari BTS, restoran Korea yang merajalela hingga film/drama Korea yang membius. Penyerbuan itu terkalkulasi dan direncanakan dengan matang. Butuh waktu puluhan tahun dan dengan kesabaran dan kesungguhan hingga akhirnya sukses itu datang.

“Decision to Leave” yang bisa ditonton di Vidion ini menyajikan sinema Korea yang khas. Drama sederhana, tak neko-neko namun dibalut dengan penceritaan matang dan pendekatan menarik. Jika biasanya kita menyaksikan crime thriller yang berfokus pada upaya pengungkapan tersangka, maka di sini Chan-wook mengajak kita memasuki labirin obsesi berbalut nafsu dari tokoh utamanya, Hae-joon. Ia adalah seorang polisi yang bertugas sebagai detektif yang mengungkap kasus pembunuhan. Ketelatenannya mengagumkan, kesabarannya mengungkap fakta demi fakta tak tertandingi hingga ia berurusan dengan satu hal yang ia kenali namun selalu datang tak terduga: CINTA.

Maka urusan mengungkap sebuah kasus yang diyakini sebagai pembunuhan, bukannya bunuh diri, malah menjadi pelik. Dan tak sesederhana yang dibayangkannya. Hae-joon membiarkan dirinya masuk ke dalam “sarang” milik Seo-rae, si tersangka. Ia adalah seorang perempuan cantik yang berprofesi sebagai perawat yang welas asih. Tapi ia juga istri yang tersakiti, yang sering menerima pukulan demi pukulan dari suaminya. Hingga suaminya meninggal terjatuh dari ketinggian ketika sedang mendaki bukit.

Hae-joon melakukan kewajibannya sebagai detektif dengan penuh integritas. Ia berpatokan pada pakem yang berlaku dalam banyak kasus: biasanya pada kasus pembunuhan, tersangka adalah orang terdekat. Di serial “The Staircase” yang tayang di HBO Go, ketika sang istri meregang nyawa di dekat tangga, maka polisi memutuskan bahwa tersangka utama adalah sang suami, Michael Peterson, yang justru menjadi orang yang melaporkan bahwa istrinya mengalami kecelakaan di rumahnya sendiri.

Tapi “Decision to Leave” tak sesederhana itu. Karena ketika cinta terlibat, semuanya kadang menjadi kabur dan rumit. Hae-joon yang mati-matian membuat teori demi teori tentang Seo-rae sebagai tersangka justru membiarkan dirinya terlibat dalam permainan berbahaya. Dan ia terperangkap di dalamnya dan nyaris tak bisa keluar. Hingga ia memutuskan untuk memulai karir dan hidupnya di kota baru.

Hae-joon pun menjadi tak bahagia karenanya. Ia susah tidur. Hidupnya tak bergairah. Hingga Seo-rae masuk kembali ke dalam kehidupannya, juga melalui kasus pembunuhan. Kali ini suaminya ditemukan tergeletak tak bernyawa di dasar kolam renang yang sudah dikuras. Hae-joon tak percaya dengan kebetulan. Tapi ia masih tak bisa keluar dari lingkaran obsesi dan nafsunya kepada perempuan itu. Pandangannya kabur, penilainnya semakin tak adil. Dan Seo-rae tahu dan memanfaatkan itu. Dan kita sebagai penonton sekali lagi dikejutkan dengan apa yang sesungguhnya menjadi inti pembicaraan Chan-wook kali ini. Karena ini bukan sekedar kisah cinta penuh obsesi dan nafsu.

Saya menyukai film Korea sejak menyaksikan “Oasis” karya Lee Chang-dong di Jakarta International Film Festival di tahun 2004. Waktu itu bahkan Chang-dong datang dan menjadi tamu istimewa dan berbagi pengalaman seputar kebangkitan sinema Korea. Seperti “Decision to Leave”, “Oasis” juga tak bicara hal-hal besar. Ia “hanya” bercerita tentang cinta di antara dua manusia, si laki-laki ber-IQ rendah dan si perempuan penderita cerebral palsy. Dan lewat bahasa sinema, cinta itu diterjemahkan dengan menarik, memukau dan mengelus hati.

Melalui film-film seperti “Oasis”, “Parasite” hingga “Decision to Leave”, kita masih perlu belajar banyak hal dari sinema Korea Selatan tentang cara bercerita yang khas. Sebuah cerita boleh saja sederhana namun di tangan pencerita yang brilyan, ia masih tetap bisa memukau. Seperti “Decision to Leave” yang sejatinya adalah kisah cinta nan tragis namun masih bisa dituturkan dari sudut pandang menarik dan berlapis-lapis oleh Chan-wook.

 

DECISION TO LEAVE

Produser: Park Chan-wook, Ko Dae-seok

Sutradara: Park Chan-wook

Penulis Skenario: Park Chan-wook, Chung Seo-kyung

Pemain: Park Hae-il, Tang Wei, Lee Jung-hyun

Video Terkait: