Home FILM Bersembunyi Untuk Kemudian Melihat Lebih Jauh

Bersembunyi Untuk Kemudian Melihat Lebih Jauh

Film Hide and Seek [2005]

18
0
SHARE
Bersembunyi Untuk Kemudian Melihat Lebih Jauh

Anak–anak diberkahi kemuliaan. Mereka melihat sesuatu dari sudut pandang yang paling sederhana, tak terkontaminasi apapun. Anak–anak berkata jujur, mengucapkan apa yang dilihatnya, bukan yang dianggapnya benar. Dalam Le Petit Prince (1990) karya Antoine de Saint-Exupery, hanya si anak yang dapat melihat gambar siluet bukan gambar sebuah topi, melainkan gajah yang ditelan ular sawah.

Padahal anak tak punya tendensi apapun untuk mengomentari sesuatu. Dalam berbagai film, utamanya yang memilih genre horor, anak kecil tak pernah dipercaya bisa melihat hal–hal gaib. Dalam The Sixth Sense (1999), Haley Joel Osment baru dipercaya ‘berbakat’ melihat hantu setelah ia ditemukan ketakutan setengah mati. Begitupun dengan Emily (Dakota Fanning). Ayahnya, David Callaway (Robert DeNiro), menganggap Charlie yang disebut–sebut Emily selalu bersamanya, adalah teman imajiner-nya. David yang psikolog tentu selalu menakar sesuatu dari sudut pandang keilmuan. Maka David menganggap Emily hanya trauma akibat kematian ibunya yang mengenaskan. Begitulah sikap orang tua yang sering digambarkan dalam berbagai film, pun dalam kehidupan nyata. Mereka hanya ingin mempercayai apa yang ingin mereka percayai.

Tapi orang dewasa yang menonton Hide & Seek mesti hati–hati jika menganut paham seperti itu. John Polson yang duduk di kursi sutradara membuat Hide & Seek semisterius mungkin. Kita diperlakukan seperti sedang bermain petak umpet. Fakta–fakta disembunyikan demi menuntun ekspektasi penonton ke arah yang diinginkannya, untuk kemudian membalik semua ekspektasi itu. Dan Polson merasa fakta–fakta itu cukup diperlihatkan sebagai kepingan–kepingan yang disunting sebagai adegan flashback.

Sebagai tontonan hiburan, Hide & Seek berpotensi untuk membuat penonton tegang, pucat pasi, dan kemudian berteriak. Apalagi Polson mengimbuhi Hide & Seek dengan ritme yang terjaga dan musik yang siap mengagetkan penonton kapan saja. Tapi horor mestinya tak berakhir hanya pada formula itu. Maka Polson meramu Hide & Seek sebagai tontonan yang tak hanya menegangkan, tapi juga memancing keingintahuan hingga akhir.

Sayangnya, ketika fakta demi fakta disibak, penonton yang jeli mungkin akan bertanya–tanya. Mempertanyakan kepingan–kepingan fakta yang berceceran sepanjang film yang dimusnahkan tanpa ampun di akhir film! Bagian ini dilakukan tanpa penjelasan masuk akal. Polson tak punya banyak waktu menenangkan logika penonton cerdas. Patut dipertanyakan mengapa skenario yang sudah disusun dengan rapi, diobrak–abrik oleh keinginan untuk memperdaya penonton? Demi apa ini dilakukan? Dan mengapa dengan cara tak meyakinkan pula? Bah!

Tapi harus diakui, Hide & Seek cemerlang, terutama berkat Dakota Fanning. Aktris (cilik) Hollywood paling bersinar ini pandai berhitung dengan peran. Menyaksikan dirinya gampang beralih rupa sebagai gadis tertekan, membuat penonton mudah iba padanya. Dan Robert De Niro, yang seperti biasa bermain baik. Susah untuk menjelaskan lebih jauh mengenai peran De Niro di sini, karena akan merusak keingintahuan mereka yang belum menonton film ini. Yang pasti, persiapkan diri sebelum menonton Hide & Seek untuk diperdaya. Maka jangan percaya apa yang dilihat, karena ternyata di mata Polson yang dewasa, persoalannya tak sesederhana itu.

Video Terkait: