Tahun 1816. Di sebuah musim panas di dekat danau Jenewa, perempuan berusia 18 tahun itu menerima tantangan dengan senang hati. Sebuah tantangan yang tak biasa untuk menulis cerita horor. Mary Shelley, perempuan itu, akhirnya menulis novel yang menjadi klasik, Frankenstein.
Siapa yang bisa menyangka sekedar tantangan itu melahirkan novel yang terus bertransformasi dari masa ke masa. Tak terhitung betapa banyaknya film yang terlahir dari reka-imajinasi dari novel tersebut. Tahun lalu saja ada Frankenstein yang dibesut Guillermo del Toro dengan Jacob Elordi sebagai sang monster. Dan tahun ini Maggie Gyllenhaal merilis The Bride dengan perspektif menarik masih tentang sosok sang monster.
Sesuai judulnya The Bride berfokus pada sosok perempuan yang diniatkan sebagai pasangan hidup bagi sang monster yang kesepian. Sang monster yang dirakit dari potongan tubuh banyak orang dan ditiupkan ruhnya sedemikian rupa sehingga bisa kembali hidup ternyata bisa mengalami problem eksistensial. Ia kesepian dan butuh teman hidup. Apalagi karena usianya sudah menginjak 100 tahun. The Bride versi 2026 tentu saja tak bisa memisahkan dirinya dari film klasik, The Bride of Frankenstein, rilisan 19 April 1935. Plotnya kurang lebih sama dengan sebuah hal yang direvolusionisasi oleh Maggie. Jika di versi 1935 sosok The Bride hanya muncul selama 10 menit maka Maggie justru membuat The Bride sebagai tokoh utama.
The Bride adalah seorang perempuan bernama Ida yang hidup di tengah suasana kaotik kota Chicago tahun 1936. Seorang perempuan yang mengitari kehidupan serba keras ala mafia dan nantinya kita kenali sebagai saksi dari sejumlah kasus kekerasan perempuan yang dipotong lidahnya. Ida adalah suara keras dari tahun 2026 yang bergema hampir 100 tahun sebelumnya dan bagian ini dipertegas oleh Maggie yang membedakan karyanya dari inspirasinya.
Di suatu malam, dokter Euphronius kedatangan tamu tak diundang. Seorang monster menyelinap ke ruang praktiknya dengan sebuah permintaan yang ganjil. Ia ingin berhubungan intim dengan seorang perempuan. Tak sekedar ingin berhubungan intim sebenarnya, ia ingin mencari teman hidup.
Dalam waktu berdekatan seorang perempuan mati karena kecelakaan. Seorang perempuan yang banyak bicara dan membuat risau bos mafia. Kematiannya dianggap menjadi kunci agar sejumlah rahasia tak terungkap. Akhirnya Ida, nama perempuan itu, dihidupkan kembali oleh sang dokter untuk menjadi teman dari sang monster.
Tapi hidup tak selalu berjalan seperti yang kita inginkan bukan? Hal ini juga berlaku pada sang monster. Ida tak sekedar hidup kembali namun ia menjadi lebih hidup dari kehidupannya sebelumnya. Keduanya seperti menemukan satu sama lain dan sontak saja tampak seperti pasangan Bonnie & Clyde. Dan dimulailah petualangan seru dari keduanya yang berputar-putar di banyak hal termasuk soal kekerasan perempuan di tangan bos mafia.
Maggie lantas menjadikan ida alias The Bride sebagai simbol woke hari ini. Sosok perempuan yang berani bersuara dan tanpa sengaja menginspirasi banyak perempuan lain untuk berani berbicara. Revolusi terjadi dan membuat Ida beserta sang monster berada di tengah pusaran konflik. Kehidupan mereka adalah pelarian dari satu kota ke kota lain. Kehidupan yang sebelumnya bisa jadi tak pernah dibayangkan sang monster. Dan kehidupan serta petualangan ini pelaan-pelan membuat keduanya menjadi dekat dan terkoneksi satu sama lain. Sang monster dan The Bride terus berlari dan kita melihat bagaimana Maggie sebagai sutradara juga terus berkejaran dengan waktu menyelesaikan banyak hal dalam filmnya.
Tentu saja tantangan dari Maggie adalah bagaimana menyatukan segalanya secara koheren dalam sebuah film berdurasi 126 menit yang ingin bercerita banyak hal. Dari sosok sang monster kesepian dan ingin menemukan perempuan untuk menghilangkan rasa sepinya ke sosok perempuan yang kelak tak sekedar mengisi hari-harinya namun membuat hari-harinya yang sebelumnya sepi menjadi kaotik, liar dan tak terkendali. Dalam beberapa hal, upaya Maggie tak sepenuhnya berhasil namun dari sejumlah segi Maggie beruntung punya 2 aktor karismatik yang selalu sukses menyalakan adegan. Kita bisa memahami rasa sepi sang monster karena Christian Bale tak sekedar menjadi monster namun menyalakan sisi manusiawinya dengan kadar yang tepat. Dan kita pun bisa memahami keliaran Ida alias The Bride karena Jessie Buckley mengijinkan kita memasuki hati dan perasaannya yang selalu campur aduk.
Di tangan Maggie, The Bride menjelma sebagai film yang tak sekedar kaotik namun juga extravagant, tak sekedar memilukan namun juga mengobarkan rasa iba, tak sekedar menceritakan kisah dari sebuah masa lalu yang mungkin sudah terlampau jauh namun mencoba menyuarakan suara dari masa kini yang terasa relevan. Paling tidak dengan niat ini kita bisa memaafkan sejumlah inkoherensi dari The Bride yang tampak terlalu ambisius membicarakan banyak hal dalam waktu terbatas.
Berawal dari tantangan yang dialami Mary Shelley hampir 100 tahun lalu ke tantangan untuk menjadikan kisah ini masih terasa relevan hari ini adalah sebuah tantangan besar. Mary Shelley berhasil melakukannya kala itu. Kini apakah Maggie Gyllenhaal juga dianggap berhasil mengulangnya?
THE BRIDE
Produser: Maggie Gyllenhaal, Osnat Handelsman-Keren, Talia Kleinhendler, Emma Tillinger Koskoff
Sutradara: Maggie Gyllenhaal
Penulis Skenario: Maggie Gyllenhaal
Pemain: Jessie Buckley, Christian Bale, Jake Gyllenhaal






LEAVE A REPLY