Home FILM Andai Keduanya Bertukar Kehidupan

Andai Keduanya Bertukar Kehidupan

Film Man on the Train [2002]

18
0
SHARE
Andai Keduanya Bertukar Kehidupan

Entah sampai kapan manusia menemukan titik kepuasan. Rasanya  kita selalu dahaga atas apa–apa yang belum mampu dicapai, meski yang sudah diraih tak kurang banyaknya. Tidak di Australia, Indonesia hingga Prancis sekalipun, manusia selalu ingin melakukan pencarian atas dirinya. Lihatlah kisah Man On The Train arahan Patrice Leconte yang mahsyur dengan The Widow of Saint-Pierre (2000). Disini dikisahkan dengan gamblang persahabatan dua pria yang baru saja bertemu. Yang pertama, Milan (diperankan penyanyi Johnny Hallyday) seorang penjahat yang berencana merampok bank di kota kecil nun jauh di Prancis. Yang kedua, Manesquier (Jean Rochefort), seorang pensiunan guru sastra yang hidup di rumah besarnya yang megah. Pertemuan keduanya terjadi tak disengaja di sebuah apotik. Manesquier yang cerewet tentu saja mengajak Milan untuk ngobrol. Bahkan pria tua ini menawari Milan mampir di rumahnya. Milan yang kebingungan mencari hotel, akhirnya memutuskan menerima ajakan Manesquier. Sekilas, kedua pria ini berbeda 180 derajat, paling tidak tampak dari penampilan fisikal. Manesquier yang selalu rapi berbanding terbalik dengan Milan yang terlihat urakan. Toh, keduanya bisa akrab satu sama lain. Yang mengagetkan, keduanya bisa saling mengagumi. Lihatlah Manesquier yang minta diajari cara menembak oleh Milan, sedang Milan diajari Manesquier beberapa puisi favoritnya. Pada tingkat yang lebih ekstrim, akan tersimak bahwa keduanya justru berharap bisa saling bertukar kehidupan di masa selanjutnya.

Seperti kebanyakan film menarik lainnya, Man On The Train dikemas dengan alur yang diperhitungkan secara cermat, lamban tapi pasti dan amat mementingkan detail. Perhitungan yang tepat karena film ini benar–benar bertumpu pada dua karakter utama pria. Karakter lain boleh dibilang hanya pemanis belaka. Penonton diajak mencermati cerita dengan selipan kejutan dan informasi yang tak terduga. Jadinya memang ketika menonton film ini, biarkan saja alur cerita mengalir semaunya tanpa perlu bagi menebak–nebak arahnya. Dengan begitu, kejutan–kejutan kecil yang dihadirkan akan terasa lebih bermakna. Yang sungguh mengagumkan adalah ketika film mencapai ending, penonton dipersilahkan untuk mempersepsikannya secara individual. 

Bagi saya, Man On The Train adalah kisah pencarian makna hidup oleh dua orang pria yang (sayangnya) sama–sama kesepian. Melihat film ini secara jernih akan membawa penafsiran atas hakikat hidup, tanpa perlu meluangkan waktu senggang untuk menonton film ini lagi (karena masih belum paham akan maknanya). Disini, ending jadi tak begitu penting karena proses pencarian jati diri kedua pria inilah yang paling menarik. Begitupun, dialog–dialog memikat yang disusun Claude Klotz mempertegas karakterisasi kedua tokoh.

Man On The Train seperti ingin memberi ceramah moral akan jalan hidup yang dipilih secara sukarela atau jalan hidup yang sudah jadi takdir. Karena keduanya membawa konsekuensi yang berbeda secara

personal. Begitupun, ketika mengambil sebuah keputusan maka resiko pun harus ditanggung. Itulah makna hidup.

Life is about taking a risk.

Jangan sampai menyesali keputusan yang diambil, hanya karena sebuah alasan yang tak menyenangkan hati. Apapun, bertanyalah pada hati nurani akan apa yang dianggap benar bagi diri kita.

Video Terkait: