Home news MEMBERI SEBAGAI FONDASI ORGANISASI: HAK MENERIMA HARUS DIIMBANGI KONTRIBUSI – OKI PRASETIAWAN, SM.,SH.,MH.,CLMA.

MEMBERI SEBAGAI FONDASI ORGANISASI: HAK MENERIMA HARUS DIIMBANGI KONTRIBUSI – OKI PRASETIAWAN, SM.,SH.,MH.,CLMA.

14
0
SHARE
MEMBERI SEBAGAI FONDASI ORGANISASI: HAK MENERIMA HARUS DIIMBANGI KONTRIBUSI – OKI PRASETIAWAN, SM.,SH.,MH.,CLMA.

JAKARTA,10 MARET 2026 – "Jangan pernah mengharapkan sesuatu jika kita belum melakukan apapun." Prinsip yang tegas ini menjadi dasar filosofis bagi konsep "hidup lebih baik memberi daripada menerima" – sebuah landasan moral yang mengubah paradigma kontribusi dan dinamika hubungan dalam lingkungan organisasi. Pernyataan ini disampaikan oleh Oki Prasetiawan, SM.,SH.,MH.,CLMA., praktisi hukum dan aktivis sosial dengan pengalaman luas dalam pembangunan dan pengelolaan organisasi.

Selain menekankan esensi memberi sebagai manifestasi makna hidup, ia juga menegaskan bahwa hak untuk menerima tidak dapat dipisahkan dari usaha dan kontribusi yang sesuai, sekaligus menguraikan hubungan intrinsik antara konsep memberi dengan dinamika hak dan kewajiban yang menjadi pijakan organisasi yang sinergis dan berkelanjutan.

MEMBERI SEBAGAI MANIFESTASI MAKNA HIDUP

Menurut Oki Prasetiawan, konsep memberi tidak terbatas pada pemberian materi atau barang semata, melainkan mencakup kontribusi multidimensi berupa waktu, perhatian, pengetahuan, dan dukungan emosional. "Banyak kalangan menyempitkan makna memberi hanya pada donasi uang atau barang. Padahal, terkadang kebutuhan utama sesama adalah kehadiran yang mendukung, atau ilmu yang dapat membekali mereka untuk mengatasi tantangan hidup," paparnya dalam wawancara eksklusif.

Ia menjelaskan bahwa tindakan memberi membawa dampak ganda yang saling menguntungkan: memberikan manfaat konkret bagi penerima sekaligus memperkaya dimensi kehidupan si pemberi. "Ketika kita memberi dengan niat murni, akan terasa kedalaman kepuasan yang tidak dapat diperoleh dari hal-hal bersifat materi. Hal ini memberikan orientasi hidup yang lebih jelas dan bernilai," tambahnya.

Di sisi lain, Oki menegaskan prinsip yang tak terpisahkan dari filosofi memberi: "Kita tidak dapat mengharapkan penerimaan apapun dari sesama atau masyarakat jika tidak melakukan usaha serta kontribusi yang sepadan. Setiap bentuk penerimaan yang memiliki makna biasanya menjadi hasil dari kerja keras, kerja sama, atau kontribusi yang telah kita berikan sebelumnya."

MEMBERI SEBAGAI LANDASAN PEMBANGUNAN ORGANISASI

Sebagai tokoh yang aktif dalam berbagai inisiatif kemasyarakatan, Oki menegaskan bahwa prinsip memberi menjadi fondasi utama dalam membangun organisasi yang solid dan berkelanjutan. "Ketika kita mulai berbagi apa yang kita miliki – baik berupa keterampilan, waktu, maupun sumber daya – kita menciptakan ikatan kerja yang kuat antaranggota. Hal ini mengubah dinamika dari 'setiap orang untuk diri sendiri' menjadi 'kita bersama dalam mencapai tujuan organisasi'," ujarnya.

Dalam paparannya, ia mengutip pandangan dari buku internasional "The Fifth Discipline: The Art & Practice of the Learning Organization" karya Peter M. Senge – referensi global dalam manajemen organisasi. Buku tersebut menyatakan bahwa organisasi yang berhasil adalah mereka yang mampu menumbuhkan budaya kontribusi di mana setiap anggota merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan nilai bagi keseluruhan sistem.

"Seperti yang dikemukakan dalam karya tersebut, organisasi yang berkelanjutan tidak hanya fokus pada pencapaian target individu, melainkan pada bagaimana setiap kontribusi dapat memperkuat struktur dan tujuan bersama. Ini sejalan dengan prinsip bahwa tindakan memberi dari setiap anggota dapat menginspirasi kolektifitas untuk berpartisipasi dan berkontribusi. Itulah siklus kebaikan yang kita upayakan bangun. Dalam setiap struktur organisasi, kami menanamkan pemahaman bahwa setiap anggota diharapkan untuk berkontribusi sesuai dengan kapasitasnya – karena hak dan kewajiban adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan," jelasnya.

SINERGI HAK DAN KEWAJIBAN DALAM KONTEKS MEMBERI DAN MENERIMA

Sebagai praktisi hukum, Oki menguraikan bahwa konsep hak dan kewajiban merupakan pijakan normatif yang menjadi dasar dari setiap struktur organisasi, termasuk dalam tataran memberi dan menerima.

- Kewajiban merupakan tanggung jawab yang harus diemban terhadap diri sendiri, sesama anggota, dan tujuan organisasi. Dalam konteks memberi, kewajiban dapat berupa kontribusi sesuai dengan kapasitas individu, menjaga hubungan kerja yang konstruktif, serta berperan aktif sebagai bagian dari solusi permasalahan yang dihadapi organisasi. "Kewajiban menjadi dasar dari setiap tindakan memberi yang bermakna. Kita memiliki kewajiban untuk membantu sesama anggota ketika mampu, sekaligus kewajiban untuk bekerja keras agar tidak hanya bergantung pada dukungan pihak lain atau sumber daya organisasi," jelasnya.

- Hak adalah porsi yang layak diperoleh sebagai individu atau anggota organisasi. Namun, hak tidak dapat diwujudkan secara terpisah – ia memiliki keterkaitan intrinsik dengan kewajiban yang harus dilaksanakan. "Kita memiliki hak untuk menerima dukungan pada saat benar-benar membutuhkan, hak untuk diperlakukan dengan adil, serta hak untuk mendapatkan akses pada sumber daya yang dimiliki organisasi. Namun, hak tersebut harus diimbangi dengan kewajiban untuk berkontribusi kembali ketika kondisi memungkinkan, serta menghormati hak-hak yang dimiliki oleh sesama anggota dan keberlangsungan organisasi," tambahnya.

KESEIMBANGAN SEBAGAI KUNCI KEBERLANJUTAN

Meskipun menekankan pentingnya memberi, Oki juga menyatakan bahwa menerima bantuan atau dukungan dari organisasi pada saat diperlukan bukanlah hal yang negatif. "Struktur organisasi yang sehat adalah di mana setiap anggota mampu memberi sesuai dengan kapasitas, sekaligus berani menerima ketika berada dalam kondisi yang membutuhkan. Tidak ada nilai negatif dalam meminta dukungan; yang penting adalah ketika kondisi telah membaik, kita kembali berkontribusi untuk mendukung perkembangan organisasi dan sesama anggota," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kesadaran akan batasan diri menjadi elemen penting dalam memberi, begitu pula kesadaran akan tanggung jawab dalam menerima – sejalan dengan prinsip bahwa harapan harus selalu diimbangi dengan tindakan. "Kita tidak dapat memberi hingga mengorbankan kelangsungan diri atau menyebabkan kesulitan bagi organisasi. Begitu pula, tidak boleh terjadi penerimaan secara berlebihan tanpa upaya untuk meningkatkan kapasitas diri dan berkontribusi kembali. Keseimbangan antara hak dan kewajiban adalah kunci agar prinsip memberi dan menerima dapat berjalan secara berkelanjutan dalam organisasi," pungkasnya.(red)