Home SERIAL Tentang Nia

Tentang Nia

Serial Suka Duka Berduka [2022] - Tayang di Vidio

6
0
SHARE
Tentang Nia

Tahun 2004. Saya sedang merasakan cinta pertama dengan film dan mulai mengkonsumsi film dengan beragam tema-tema sulit dari seluruh dunia. Dan dikejutkan dengan “Arisan” yang dirilis di bioskop.

Saya tak bisa membayangkan jika “Arisan” diproduksi dan dirilis di bioskop dalam 5 tahun terakhir. Tema besar film ini memang mengangkat soal gemerlap kalangan sosialita di Jakarta namun juga memberi ruang pada isu yang sensitif: homoseksualitas.

Homoseksualitas di sinema Indonesia sesungguhnya bukan hal baru. Duet maut sutradara Wahyu Sihombing dan penulis Asrul Sani terlebih dahulu mengeksplorasinya pada tahun 1988 dalam film “Istana Kecantikan”. Mathias Muchus didapuk menjadi Nico, gay yang harus berpura-pura menjadi normal ketika didesak menikah oleh orangtuanya. 

Soal kepura-puraan dan homoseksualitas kembali diolah Nia Dinata dalam “Arisan”. Meski “hanya” menjadi subplot namun menarik perhatian publik, juga berkat kecemerlangan Tora Sudiro yang menjadi gay dan memadu kasih dengan Surya Saputra. Sejak itu kita mengenal Nia sebagai sutradara yang selalu mengedepankan soal LGBTQ+ Beberapa karyanya tak luput dari unsur itu meski selalu dikemasnya tak vulgar dan masih bisa diterima masyarakat.

Soal LGBTQ+ menjadi isu panas dalam beberapa tahun terakhir. Tapi Nia tetaplah Nia, ia seperti tak peduli semua itu dan selalu punya cara yang menarik untuk memasukkannya ke dalam cerita yang digarapnya. Seperti pada karyanya yang terakhir, serial “Suka Duka Berduka”.

Indonesia baru mengenal sistem serial sejak layanan streaming mulai diterima baik oleh masyarakat. Saya memproduksi sekaligus menyutradarai serial “Cerita Dokter Cinta” untuk Maxstream di tahun 2019. Kisah 10 episode yang bercerita soal suka duka dokter muda ini dibintangi Deva Mahenra, Prilly Latuconsina dan Kemal Palevi. Sejak pandemi, serial mulai ramai diproduksi dan kita mulai melihat upaya untuk memproduksi karya berkualitas yang selama ini sangat jarang kita dapatkan dari stasiun televisi. Begitupun belakangan, tema-tema yang disodorkan serial di berbagai layanan streaming cenderung mengulang pola-pola yang sama. Jadinya terasa semakin lama semakin membosankan dan tak menawarkan kesegaran baru. “Suka Duka Berduka” datang dengan tema yang sangat berbeda dan khas dari Nia. Plot utamanya soal warisan dan dipenuhi dengan subplot yang tak kalah menarik dan terasa betul kekhasan Indonesia-nya.

Setelah kematian datanglah warisan. Opa Rauf meninggal mendadak dan mengguncang rumah di Kemang Selatan itu. Kemang menjadi representasi status sosial dari keluarga itu. Dengan harga rumah yang ditaksir bisa mencapai 30 milyar di kawasan itu, tahulah kita bahwa Nia kembali ke akarnya yang sangat dikuasainya: ia kembali bercerita soal keluarga kelas atas yang problematik. 

Kita akan bertemu dengan karakter-karakter yang menarik sepanjang 8 episode. Mulai dari Mitha yang bercerai dari suami bulenya dan membesarkan putra pesepakbola bernama Vano. Lantas ada Ella yang sedang menggebu mendukung suaminya, Paul, menjadi gubernur. Dan tentu saja, karakter paling menarik dari tiga bersaudara ini. Perkenalkan Rasyid a.k.a Acid, anak bungsu sekaligus anak laki-laki satunya. Acid datang menggandeng perempuan cantik eksotik namun sesekali tak bisa menyembunyikan gemulai tubuhnya ketika sedang melintas di depan saudara maupun keponakannya.

Mitha, Ella dan Acid adalah sosok yang mudah kita temui dalam kehidupan nyata. Dan Nia memang berusaha betul membuat ketiga karakter ini tampak membumi. Meski dandanan mereka tampak betul mahal dengan tas bermerek namun mereka bertingkah seperti layaknya kita. Menyimpan banyak rahasia namun menjaga citra habis-habisan di depan orang banyak. Berusaha terlihat kompak di muka umum padahal ketiganya mudah bertikai satu sama lain. 

Kepura-puraan, kemunafikan dan homoseksualitas. Ketiga isu ini ditumpuk begitu saja ke dalam cerita namun bisa mengalir tanpa menutupi satu dengan lainnya. Soal kepura-puraan, toh kita pun mengalaminya. Berapa banyak dari kita yang selalu pura-pura berusaha keras terlihat bahagia di media sosial? Berapa banyak dari kita yang selalu pura-pura berusaha keras menutupi identitas kita sebenarnya di media sosial? Dan berapa banyak dari kita yang selalu pura-pura berusaha keras tampak baik-baik saja di media sosial?

Saya bertemu dengan beberapa sosok mirip Acid dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa diantara mereka bahkan menjalani kehidupan ganda. Di satu sisi menampakkan diri sebagai suami yang bahagia, di sisi lain menutupi diri sebagai pasangan homoseksual yang berbahagia dengan caranya sendiri. Setiap orang pada akhirnya punya standar kebahagiaannya masing-masing dan menjalani pilihan-pilihan tersebut dengan resiko masing-masing.

Dengan pilihan-pilihan yang diambilnya, Nia berusaha jujur sebagai sineas. Sesuatu yang terasa semakin sulit didapatkan di masa ini. Ketika karya dipaksa menjadi sekedar komoditas tanpa identitas, ketika karya terpaksa hadir hanya sebagai produk tanpa jiwa. Dan kita selalu bisa belajar pada Nia dengan pilihan-pilihan sulit yang beresiko yang diambilnya selama menjalani karirnya. 

 

SUKA DUKA BERDUKA

Produser: Tia Hendani, Sunil Samtani, Nia Dinata

Sutradara: Nia Dinata, Andri Cung

Penulis Skenario: Agasyah Karim, Khalid Kashogi, Nia Dinata

Pemain: Jihane Elmira, Ersa Mayori, Luna Maya

Video Terkait: