Tahun 2005. Saya sedang gandrung-gandrungnya menikmati film dari seluruh dunia, tak melulu hanya dari Hollywood. Dan saya jatuh cinta dengan sebuah film Prancis berjudul Le Grand Voyage.
Tahun itu menandai tahapan selanjutnya dari hidup saya: memutuskan untuk merantau dari Makassar ke Jakarta. Meninggalkan segala kenyamanan hidup dan memulai dari awal. Tapi saya tak pernah meninggalkan kecintaan saya pada film. Tak sekalipun.
Saya menyaksikan Le Grand Voyage di event Jakarta International Film Festival [JIFFest] dan film ini meninggalkan kesan dan luka mendalam setelahnya. Juga membuat saya mulai menggemari road movie: semacam film perjalanan yang biasanya membongkar masa lalu dari para tokohnya.
Le Grand Voyage adalah kisah tentang sebuah perjalanan besar dari ayah dan anak dari Prancis menuju Mekkah. Sang ayah yang religius dan terburu-buru ingin sampai di kota suci. Dan sang anak yang sekuler yang justru ingin berhura-hura di sepanjang kota yang mereka lalui. Dua keinginan berbeda, satu perjalanan, dalam tone film yang pelan dan meledak di akhir. Menyisakan residu di hati.
One for the Road dari Thailand juga adalah film semacam itu. Film yang berjalan pelan namun meninggalkan bekas dan luka mendalam. Jenis film yang bisa tanpa tedeng aling-aling melemparkan kita ke masa lalu. Menyusurinya setapak demi setapak, melihat kembali apa saja yang sudah dilalui dan mungkin [kelak] menyesalinya.
Ketika menginjak usia 40, perjalanan demi perjalanan yang pernah kita lalui seperti kembali terbentang di hadapan kita. Sebagian memang terasa manis untuk diingat, sebagiannya lagi mungkin terlalu pahit untuk dikenang. Perjalanan menyusuri masa lalu adalah perjalanan untuk menyusuri kenangan dan berdamai dengannya, baik atau buruk.
Mungkin kita adalah Aaod yang divonis meninggal tak lama lagi. Saya merasa begitu dekat dengan cerita ini karena berada di keluarga berusia pendek. Ibu saya meninggal karena kecelakaan mobil di usia 39 dan adik saya meninggal karena AIDS di usia 27. Aaod masih berusia 30-an dan terkena kanker. Ia tak mempermasalahkan penyakitnya tapi ia risau dengan satu hal: ia harus berdamai dengan para mantan yang pernah disakitinya.
Selama hidup, berapa kali kita menjalin kasih? Sekali, dua kali, lima kali atau lebih dari 10 kali? Berapa banyak diantaranya yang bertahan dan berapa banyak diantaranya yang meninggalkan luka? Dan berapa banyak dari kita yang berbesar hati menemui para mantan ini setelah bertahun-tahun dan meminta dimaafkan?
Tak banyak dari kita yang seperti Aaod. Yang ingin meninggalkan dunia tanpa meninggalkan luka bagi lainnya. Tak banyak dari kita yang seperti Aaod. Yang rela menempuh perjalanan ratusan kilometer untuk meminta maaf itu.
Di usia 20-an, kita akan banyak sekali membuat kesalahan. Ketika menjalin hubungan, semakin sering hubungan itu terjalin, semakin besar pula kemungkinan kita menyakiti orang lain. Kita tahu itu. Yang tak pernah kita tahu dan bayangkan adalah sebuah kejadian besar yang membuat kita mencoba berdamai dengan masa lalu.
Mungkin tak banyak dari kita yang seperti Aaod. Mungkin lebih banyak dari kita yang seperti Boss. Yang rela terbang jauh dari Amerika untuk menemani sahabatnya menyusuri kota demi kota di Thailand. Yang bisa begitu saja meminggirkan segala rutinitasnya untuk menemani sahabatnya meminta maaf demi maaf.
Aaod pasti tak menduga ia akan melakukan perjalanan itu. Dan ia juga tak menduga Boss akan datang begitu saja. Hidup memang sering tak terduga. Dan perjalanan keduanya juga menyisakan pertanyaan besar bagi keduanya: mampukah mereka saling memaafkan?
Meminta maaf. Memaafkan. Dua hal dalam hidup yang bisa begitu rumit ketika usia kita terus beranjak dewasa. Ketika masih kanak-kanak, kita begitu mudah bermusuhan dan menyakiti namun juga begitu gampang meminta maaf dan melupakannya. Dan hidup memang bisa begitu rumitnya ketika soal meminta maaf dan memaafkan ini berhadapan dengan ego masing-masing.
Aaod dan Boss menyusuri sepanjang jalan kenangan. Dan kita pun dilemparkan kembali ke masa lalu. Berapa banyak dari para mantan yang kita sakiti dan kita tak pernah berusaha meminta maaf kepada mereka? Berapa banyak dari para mantan yang menyimpan dendam bertahun-tahun akibat perlakuan menyakitkan kita kepada mereka? Dan berapa banyak dari para mantan yang memaafkan tanpa perlu kita bersusah payah melakukannya?
Dan itulah hidup dengan segala kejutannya. Persoalan minta maaf dan memaafkan bisa sekompleks itu. Tapi hidup juga bisa begitu mudah ketika kita mencoba jujur dan berdamai dengan diri sendiri. Bisakah kita melakukannya seperti Aaod?
ONE FOR THE ROAD
Produser: Wai Chung-Chan, Wong Kar-Wai, Jacky Yee Wah Pang
Sutradara: Baz Poonpiriya
Penulis Skenario: Puangsoi Aksornsawang, Nottapon Boonprakob, Baz Poonpiriya
Pemain: Tor Thanapob Leerathanakachorn, Natara Nopparatayapon, Ploi Monthatip Horwang






LEAVE A REPLY