Home FILM Ketika Darah Jadi Aktor Utama

Ketika Darah Jadi Aktor Utama

Film Rumah Dara [2010]

19
0
SHARE
Ketika Darah Jadi Aktor Utama

Sejumlah pemerhati perfilman nasional mencatat tanda-tanda yang bisa membawa film Indonesia kembali ke masa kegelapan. Yaitu ketika film Indonesia digempur dengan tema seks, padahal sejatinya (mungkin) pasar sudah cukup bosan dengan tema yang itu-itu saja. Jika tak cepat ditanggapi, perfilman nasional bisa kembali mengalami lesu darah.

Maka ketika Rumah Dara yang menjadikan darah sebagai aktor utamanya (akhirnya) beredar di pasaran, sepatutnya kita mengacungkan jempol. Masih ada sejumlah orang yang berani mengambil resiko, mengambil tindakan tak populer dengan menghidangkan film seperti ini.

Genre slasher di tanah air memang masih terbilang baru. Yang teranyar dihidangkan film The Shaman (Pendulum Filmworks & Indika Entertainment) yang terhitung gagal di pasaran, salah satunya karena jadwal yang maju mundur dan promosi yang tak maksimal. Faktor yang disebut pertama juga dialami Rumah Dara (awalnya berjudul Macabre). Tarik ulur jadwal terjadi beberapa kali, ditingkahi gosip bahwa film ini mengalami sensor yang cukup sadis. Dan hal-hal ini memang menjadikan film besutan duo The Mo Brothers ini diperbincangkan dan menjadi salah satu film paling ditunggu tahun ini. Lantas layakkah film ini ditunggu-tunggu?

Jika bersandar pada tema, sungguh jelas film ini menyodorkan sesuatu yang segar. Tapi apakah hanya itu saja yang dijual Rumah Dara? Film yang dikelir dengan warna sepia ini menghadirkan kisah sejumlah anak muda Jakarta yang mencoba menolong seorang gadis bernama Maya (Imelda Therinne). Maya mengaku dirampok. Di tengah hujan deras, Maya pun diantarkan ke rumahnya. Sang ibu yang bernama Dara (Shareefa Daanish) menawarkan makan malam sebagai ucapan terima kasih, karena telah menolong putrinya. Sungguh sayang, makan malam yang harusnya berkesan malah jadi bencana dan tak terlupakan bagi mereka.

Dengan premis yang sebetulnya sederhana, film ini menukik dengan alur tajam tak terduga. Film yang awalnya lambat pelan-pelan berubah menjadi cepat dan bahkan membuat penonton terengah-engah seperti kehabisan napas. Itu karena Rumah Dara menyajikan aksi demi aksi yang membuat penonton berteriak, menjerit, menutup mata, dan menggigil ngeri. Ya, inilah film yang menjadikan darah sebagai bintang utamanya. Entah berapa puluh liter darah yang berceceran di sepanjang film. Belum lagi aksi penggal tangan, leher, sabitan pisau, dan bidikan panah membuat film ini menjadi mencengangkan buat mereka yang menyenangi film sejenis Hostel atau Saw. Terlihat jelas film ini dikerjakan dengan production design yang rapi dan unsur teknis mengagumkan. Upaya ini harus diberi keplokan panjang.

Dan seperti tagline di salah satu posternya, ‘horor menemukan seorang ibu’, maka Rumah Dara memang melahirkan kembali seorang Shareefa Daanish. Shareefa termasuk bintang muda yang jarang dilirik. Di tangan The Mo Brothers, ia berubah seorang aktris dengan daya pikat luar biasa. Coba bayangkan film ini tanpa Daanish, maka Rumah Dara bisa jadi hanya sekedar fun, cheesy, tak berdaya ledak seperti yang kita lihat sekarang.

Video Terkait: