Tahun 1988. Dunia film Indonesia digemparkan dengan film berjudul Istana Kecantikan. Kegemparan tersebut dipicu oleh keberanian sutradara Wahyu Sihombing dan penulis skenario Asrul Sani memotret isu yang masih sangat tabu: homoseksualitas.
Meski ada penggambaran stereotipe dan seringkali karikatural, oleh penggiat film dan aktivis LGBTQ+ di Indonesia, Istana Kecantikan dianggap sebagai pembuka pintu bagi munculnya tema-tema sejenis di dunia film tanah air. Dalam 5 tahun terakhir tiba-tiba saja kita melihat begitu banyak karakter dengan latar belakang LGBTQ ditampilkan di film hingga serial asing hingga kadang kita berpikir apa memang sepenting itu karakter dengan latar belakang sedemikian dihadirkan?
Tapi sekedar menampilkan isu homoseksualitas mungkin terasa basi hari-hari ini. Tak banyak yang bisa menyajikannya penuh rasa dan tanpa membuat penonton hetero jengah sebagaimana yang diperlihatkan Ang Lee dengan elegan dalam Brokeback Mountain [2005]. Hari-hari ini homoseksualitas diangkat dalam sejumlah perkara yang lebih pelik misalnya saja soal relasi kuasa di tengah lingkungan agamis.
Sutradara Nirartha Bas Diwangkara merasa perlu menyuarakan isu kekerasan seksual di tengah lingkungan agamis di Bali. Maka ia membuat film pendek berjudul Where the Wild Frangipanis Grow. Frangipani adalah nama Latin dari bunga Kamboja yang sangat populer di Bali. Sebagian masyarakat menganggapnya sebagai “bunga kuburan” namun Nirartha menyematkannya sebagai metafora yang saya coba memahami maksudnya hingga film berakhir.
Film pendek punya kekhasan sekaligus tantangannya tersendiri. Bagaimana dalam waktu singkat kita bisa membuat penonton memahami maksud dari si pembuat film dan sekaligus bagaimana agar pesan tersampaikan dengan baik. Film pendek juga bisa dengan berani mengeksplorasi tema-tema yang sulit kita lihat dalam film panjang komersial. Dan kesempatan ini yang dimanfaatkan oleh Nirartha untuk mengungkap kegelisahannya mengenai praktik relasi kuasa di tengah lingkungan agamis Hindu di Bali. Bagaimana praktik itu berawal, berjalan dan terus berputar-putar laiknya lingkaran setan tanpa ujung.
Di awal kita melihat bagaimana Aditya, seorang senior di lingkungan agamis Hindu tersebut, bermasturbasi karena terangsang menyaksikan yuniornya, Candra, yang tergolek tenang dalam tidurnya hanya dengan mengenakan sarung. Lantas kita melihat bagaimana Candra yang seperti tersisih dari pergaulan saat mandi di sungai bersama teman-temannya. Kita baru tahu bahwa Aditya memaksakan hasratnya pada Candra sebagaimana ia sendiri pun dipaksa oleh sang guru. Maka relasi kuasa terasa berputar-putar tak tentu arah di tengah lantunan ayat-ayat suci yang terbang ke udara.
Tapi saya tak paham mengapa teman-teman di sekeliling mereka tak bereaksi ketika Aditya tampak berusaha mendekatkan dirinya ke Candra yang seakan tak berdaya. Mereka hanya ketawa-tawa dan seakan tak hirau dengan relasi kuasa yang kelak juga bisa menimpa salah satu dari mereka. Mungkin akan lebih baik jika dihadirkan salah satu karakter lainnya yang juga pernah mengalami hal yang sama dengan Candra dan bersimpati dengannya.
Sayangnya niat baik Nirartha untuk membuka tabir persoalan relasi kuasa di lingkungan agamis Hindu di Bali tertutupi oleh suguhan adegan-adegan homoerotika yang cukup banyak, seringkali vulgar dan kadang terasa tak terlalu perlu disajikan secara berlebihan. Dalam durasinya yang singkat, Nirartha tampak lebih peduli untuk menampilkannya secara gamblang tapi tak peduli memperlihatkan bagaimana dampak yang dialami oleh Candra. Jika tak membaca pernyataan sutradara di media, mungkin saya akan menganggap film ini sekedar menggabungkan eksotisme Bali dengan homoerotika. Sewajarnya film harus bisa menceritakan dirinya sendiri tanpa perlu diceritakan berulang-ulang oleh sang sutradara di luar medium filmnya.
Dan selebrasi dunia film secara global terhadap isu-isu LGBTQ+ membuat film seperti Where the Wild Frangipanis Grow ini lebih mudah beroleh lampu sorot. Ditambah latar Bali yang masih jadi salah satu destinasi favorit pelancong dunia membuat film pendek berdurasi 15 menit ini seakan punya banyak amunisi yang membuatnya layak dilirik.
Karena dibalut eksotisme dan homoerotika dalam porsi berlebih mungkin bisa membuat kita abai pada niat baik sang sutradara. Rasanya seperti menyaksikan potret kemiskinan yang dibingkai dengan gambar-gambar cantik dengan presisi memukau yang membuat kita mengaguminya namun tak cukup bisa membuat kita merasakannya.
Dan hingga film berakhir saya tak memahami makna metafora bunga Kamboja dan penggunaan judulnya. Dan saya tak perlu mencari tahu maknanya dari pernyataan sutradara di media karena seharusnya film, termasuk film pendek sekalipun, perlu bisa menceritakan dirinya sendiri meski dalam durasi yang singkat.
WHERE THE WILD FRANGIPANIS GROW
Produser: -
Sutradara: Nirartha Bas Diwangkara
Penulis Skenario: Nirartha Bas Diwangkara
Pemain: Donny Damara, Bryan Ferguson, Agus Wiratama






LEAVE A REPLY