Harmoni Indonesia - Sabtu siang itu, 18 April 2026, aula Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tak sekadar menjadi ruang seremonial. Ia menjelma panggung kecil bagi sebuah kegelisahan besar: ke mana arah karakter bangsa ketika perubahan datang berlapis-lapis—teknologi, sosial, hingga geopolitik? Peluncuran buku Unlock Potensi Dirimu karya Vita Soemarno yang digelar oleh Yayasan Jatidiri Bangsa Indonesia berlangsung dalam suasana yang hangat sekaligus reflektif. Dibungkus dalam tradisi halal bihalal, forum itu seperti ingin mengatakan: pembangunan tidak melulu soal masa depan, tapi juga rekonsiliasi nilai di masa kini. Di tengah derasnya disrupsi, narasi pembangunan sering kali terjebak pada logika pertumbuhan—angka-angka ekonomi, proyek infrastruktur, dan jargon digitalisasi. Namun, di ruang itulah, narasi lain mencoba disisipkan: bahwa fondasi bangsa tak bisa dilepaskan dari karakter. .Buku setebal 200 halaman itu menawarkan sesuatu yang kerap dianggap klise, namun justru jarang dipraktikkan: mengenali diri, membangun integritas, menetapkan tujuan hidup, hingga merenungkan makna keberadaan. Lima gagasan yang diusungnya terdengar sederhana, tetapi di tengah krisis keteladanan, justru terasa relevan. Bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, wacana tentang penguatan nilai-nilai Pancasila kembali mengemuka. Ia hadir bukan sebagai slogan, melainkan kebutuhan terutama ketika ruang publik dipenuhi polarisasi dan pragmatisme. Yayasan Jatidiri Bangsa Indonesia, yang telah menerbitkan delapan karya, tampaknya membaca celah itu. Mereka tidak sekadar memproduksi buku, tetapi mencoba membangun ekosistem gagasan: bahwa kecerdasan intelektual tanpa kedewasaan moral hanya akan melahirkan kemajuan yang rapuh. Acara itu berakhir seperti kebanyakan peluncuran buku: foto bersama, ucapan terima kasih, dan harapan. Namun, pertanyaan yang tersisa justru lebih penting: apakah wacana tentang karakter akan berhenti sebagai diskursus, atau benar-benar menjelma praktik? ( Sapta )







LEAVE A REPLY