Profil dr. Zaini Abdullah: Sang Diplomat dan Bapak Perdamaian Aceh
dr. Zaini Abdullah (24 April 1940 – 13 Juni 2026) adalah seorang tokoh politik dan dokter asal Aceh yang memiliki peran sangat vital dalam sejarah modern Serambi Mekkah. Beliau dikenal sebagai salah satu arsitek perdamaian Aceh yang mengakhiri konflik bersenjata berkepanjangan antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Zaini Abdullah lahir di Beureunuen, Kabupaten Pidie, Aceh. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang agamis dan nasionalis. Darah perjuangan mengalir dari ayahnya, Tengku H. Abdullah Hanafiah, yang merupakan seorang ulama dan pendukung setia tokoh besar Aceh, Daud Beureueh.
Zaini menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU). Setelah menyelesaikan studinya, ia sempat berpraktik sebagai dokter. Namun, keterpanggilannya terhadap nasib Aceh membawanya terlibat dalam gerakan perlawanan politik.
Peran dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
Pada tahun 1976, Zaini Abdullah bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Beliau menjadi salah satu orang kepercayaan Hasan di Tiro. Seiring dengan intensifnya konflik, pada tahun 1981, Zaini memutuskan untuk pindah ke Swedia untuk melanjutkan perjuangan di jalur diplomatik dan internasional.
Selama berada di pengasingan, Zaini tidak hanya fokus pada diplomasi, tetapi juga tetap menjalankan profesinya sebagai dokter. Ia menempuh pendidikan kedokteran kembali di Universitas Uppsala, Swedia, dan mendapatkan lisensi untuk berpraktik di sana pada periode 1990–1995. Di kancah internasional, ia menjabat sebagai Menteri Kesehatan dan Menteri Luar Negeri dalam struktur pemerintahan GAM di pengasingan.
Arsitek Perdamaian (MoU Helsinki)
Peran paling bersejarah dari sosok yang akrab disapa "Abu Doto" ini adalah kontribusinya dalam perundingan damai. Zaini merupakan salah satu delegasi kunci GAM dalam negosiasi yang alot dengan Pemerintah Indonesia. Keteguhan dan pendekatan diplomatiknya membuahkan hasil dengan ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005. Perjanjian ini secara resmi mengakhiri konflik bersenjata selama hampir tiga dekade di Aceh dan membuka jalan bagi era otonomi khusus serta pembangunan di Aceh.
Karier Politik dan Menjadi Gubernur Aceh
Setelah perdamaian tercipta, Zaini Abdullah kembali ke tanah air dan terlibat aktif dalam politik praktis. Pada tahun 2012, ia mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh didampingi oleh Muzakir Manaf sebagai Wakil Gubernur. Pasangan ini memenangkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Aceh dengan dukungan kuat dari Partai Aceh.
Selama masa jabatannya (2012–2017), Zaini Abdullah memfokuskan kebijakannya pada pemulihan pasca-konflik, penguatan syariat Islam, dan penataan administrasi pemerintahan Aceh sesuai dengan mandat Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA). Meski dihadapkan pada berbagai tantangan politik, baik di tingkat lokal maupun hubungan dengan pemerintah pusat, ia tetap dikenal sebagai tokoh yang memegang teguh komitmen perdamaian hingga akhir masa jabatannya.
Warisan dan Akhir Hayat
dr. Zaini Abdullah meninggal dunia pada 13 Juni 2026 di RSUD dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh, pada usia 86 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi rakyat Aceh. Beliau akan selalu dikenang bukan sekadar sebagai mantan Gubernur, melainkan sebagai seorang dokter yang mengabdikan hidupnya untuk merawat kemanusiaan dan merawat kedamaian tanah kelahirannya.
Dikutip dari id.wikipedia.org