📰 EDITORIAL: Air Keras untuk Aktivis, Dingin untuk Keadilan

Politik 29 Mar 2026 08:09 2 min read 153 views By JIM + AI

Share berita ini

📰 EDITORIAL: Air Keras untuk Aktivis, Dingin untuk Keadilan
📰 EDITORIAL: Air Keras untuk Aktivis, Dingin untuk Keadilan.

📰 EDITORIAL: Air Keras untuk Aktivis, Dingin untuk Keadilan.

Di negeri yang mengaku demokratis, kritik dibalas air keras dan keadilan justru menguap seperti uap di siang bolong. Kita sering diajarkan bahwa hukum adalah panglima, dan negara hadir melindungi setiap warga. Namun setiap kali seorang aktivis diserang, narasi itu retak.

Yang tersisa bukan keyakinan, melainkan tanya: negara ini berdiri untuk siapa? Kasus penyiraman air keras terhadap seorang aktivis HAM bukan sekadar kejahatan jalanan. Ia adalah pesan politik tanpa kata-kata bahwa ada batas tak kasatmata bagi siapa pun yang berani bersuara terlalu keras.

Lebih dari itu, ini adalah pola. Bukan peristiwa tunggal, melainkan bagian dari rangkaian panjang intimidasi terhadap suara kritis. Metodenya mungkin berbeda, tetapi tujuannya sama: membungkam tanpa perlu menyensor secara resmi.

Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya pelakunya melainkan kemungkinan adanya aktor intelektual yang bersembunyi di balik bayangan kekuasaan. Dan di titik ini, pertanyaannya menjadi jauh lebih serius: apakah hukum cukup berani menyentuh mereka? Kita sudah terlalu sering menyaksikan skenario yang sama: penyelidikan berlarut, pelaku lapangan ditangkap, tetapi dalang tetap kabur dalam kabut.

 Proses hukum berjalan, tetapi rasa keadilan tidak pernah benar-benar tiba. Jika ini kembali terjadi, maka publik tidak akan lagi melihatnya sebagai kegagalan teknis. Ini akan dibaca sebagai kegagalan moral negara. Negara tidak boleh hanya hadir dalam bentuk pernyataan keprihatinan. Negara harus hadir dalam bentuk keberanian. Karena jika hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, maka yang sebenarnya sedang dirusak bukan hanya keadilan melainkan fondasi demokrasi itu sendiri. Dan mari jujur: demokrasi yang membuat warganya takut berbicara bukanlah demokrasi. Itu hanya ilusi yang dipertahankan oleh ketakutan. Air keras memang melukai tubuh, tetapi ketidakadilan melukai bangsa.

Jika kasus ini kembali berakhir tanpa kejelasan, maka yang terkikis bukan hanya kepercayaan publik melainkan keberanian kolektif untuk bersuara. Dan ketika rakyat mulai memilih diam, di situlah demokrasi benar-benar mulai padam. JIM+AI

Ruang Tengah Politik