Retorika Kiamat dan Politik Ketakutan: Membaca Pesan Kontroversial Donald J. Trump

Politik 08 Apr 2026 06:28 2 min read 89 views By JIM + AI

Share berita ini

Retorika Kiamat dan Politik Ketakutan: Membaca Pesan Kontroversial Donald J. Trump
Retorika Kiamat dan Politik Ketakutan: Membaca Pesan Kontroversial Donald J. Trump

Retorika Kiamat dan Politik Ketakutan: Membaca Pesan Kontroversial Donald J. Trump

Ketika seorang tokoh global berbicara tentang “peradaban yang akan mati malam ini”, itu bukan sekadar opini itu adalah sinyal. Pertanyaannya: sinyal untuk siapa, dan dengan tujuan apa?

Dalam lanskap politik global yang semakin terpolarisasi, bahasa yang digunakan para pemimpin bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen pengaruh.

Pernyataan keras, dramatis, bahkan apokaliptik sering kali dipakai untuk membentuk persepsi publik. Unggahan terbaru dari Donald J. Trump menjadi contoh nyata bagaimana narasi besar tentang kehancuran dan harapan dipaketkan dalam satu pesan yang menggugah emosi sekaligus memicu kontroversi.

Pernyataan tersebut sarat dengan retorika ekstrem: “sebuah peradaban akan mati malam ini.” Kalimat ini bukan hanya hiperbola, tetapi juga bentuk framing yang berpotensi menanamkan rasa takut kolektif. Dalam praktik jurnalisme dan komunikasi politik, penggunaan diksi seperti ini sering kali bertujuan untuk menciptakan urgensi bahkan kepanikan yang dapat memobilisasi opini publik secara cepat.

Namun, di balik narasi kehancuran itu, terselip optimisme yang bersyarat: “mungkin sesuatu yang luar biasa akan terjadi.” Ini adalah teknik klasik membangun ketegangan lalu menawarkan harapan sebagai resolusi.

Strategi ini efektif secara psikologis, tetapi problematis secara etis, terutama ketika menyangkut isu geopolitik sensitif seperti Iran. Lebih jauh, klaim tentang “47 tahun pemerasan, korupsi, dan kematian” menunjukkan simplifikasi sejarah yang kompleks. Realitas politik suatu negara tidak bisa direduksi menjadi satu narasi tunggal tanpa risiko bias dan distorsi.

Di sinilah publik perlu waspada: apakah ini analisis berbasis fakta, atau sekadar konstruksi naratif untuk kepentingan tertentu? Yang paling mengkhawatirkan adalah implikasi globalnya. Pernyataan seperti ini, jika tidak didukung oleh data konkret atau konteks yang jelas, dapat memperkeruh hubungan internasional dan memicu spekulasi liar.

Dalam era digital, satu unggahan bisa menjadi bahan bakar bagi disinformasi yang menyebar tanpa kendali. Retorika dramatis memang ampuh menarik perhatian, tetapi tidak selalu mencerminkan realitas. Publik perlu membaca pesan seperti ini dengan nalar kritis, bukan sekadar emosi. Karena dalam politik global, kata-kata bukan hanya menggambarkan dunia mereka bisa membentuknya.JIM+AI

Ruang Tengah Politik