Home Opini *Zaman Edan*

*Zaman Edan*

27
0
SHARE
*Zaman Edan*

By Dr. Ir. Hadi Prajoko, SH, MH

 

Di zaman ketika berita bergerak lebih cepat daripada kebijaksanaan, konflik yang terjadi jauh dari tanah tempat kita berpijak sering terasa begitu dekat di hati. 

Perang antara bangsa-bangsa yang bahkan tidak pernah kita kunjungi dapat menggetarkan emosi kita seolah-olah itu adalah luka pribadi.

Kata-kata mengalir deras di ruang publik, pendapat bertebaran di media sosial, dan sikap keras tumbuh seperti api yang disiram angin.

Namun di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah pertanyaan filsafat yang sunyi patut kita renungkan:

Apakah kita benar-benar sedang mencari kebenaran, atau hanya sedang mencari pihak untuk dibela?

Sering kali manusia merasa sedang membela keadilan, padahal yang ia bela hanyalah identitas yang ia rasa dekat dengan dirinya, agama, ideologi, bangsa, atau narasi yang telah lama membentuk pikirannya. 

Dalam psikologi sosial, hal ini dikenal sebagai kecenderungan alami manusia untuk memihak kelompoknya sendiri. 

PIKIRAN MANUSIA CENDERUNG MEMILIH INFORMASI YANG MENGUATKAN KEYAKINANNYA, DAN MENOLAK YANG MERUNTUHKANNYA.

Maka perang yang jauh pun berubah menjadi medan pertempuran di dalam pikiran.

DI RUANG DISKUSI YANG SEHARUSNYA MENJADI TEMPAT MENCARI TERANG, KITA SERING MELIHAT KATA-KATA BERUBAH MENJADI SENJATA. 

Argumen bukan lagi upaya memahami, melainkan cara untuk menang. Padahal filsafat sejak dahulu mengajarkan bahwa kebenaran jarang tinggal di satu sisi saja. 

Realitas sejarah, politik, dan kemanusiaan selalu lebih kompleks daripada slogan yang beredar.

DI SINILAH KEBIJAKSANAAN MENJADI PENTING. ORANG YANG BIJAK TIDAK TERGESA-GESA MENYALAKAN API KEMARAHAN. 

Ia menahan diri untuk mendengar lebih lama, membaca lebih dalam, dan memahami lebih luas. 

IA TAHU BAHWA KONFLIK ANTARBANGSA BUKAN SEKADAR CERITA HITAM DAN PUTIH, MELAINKAN JARINGAN PANJANG SEJARAH, KETAKUTAN, KEPENTINGAN, LUKA, DAN HARAPAN YANG SALING BERTAUT.

Filsafat mengajarkan bahwa memahami tidak berarti membenarkan. Tetapi TANPA MEMAHAMI, MANUSIA MUDAH BERUBAH MENJADI ALAT DARI NARASI YANG BAHKAN TIDAK IA PAHAMI SEPENUHNYA.

Fanatisme lahir ketika emosi menggantikan refleksi.
Ia mulai dari keyakinan yang keras, lalu berubah menjadi kebencian yang membara.

Dan ironisnya, api itu sering kali tidak hanya membakar lawan yang jauh, tetapi juga membakar kedamaian hati kita sendiri.

Dalam perspektif etika, manusia yang matang secara moral tidak sekadar bertanya: siapa yang benar dan siapa yang salah?

Ia juga bertanya: bagaimana kita menjaga kemanusiaan di tengah konflik?

Karena pada akhirnya, setiap perang selalu meninggalkan dua jenis korban: mereka yang berada di medan tempur, dan mereka yang kehilangan kemanusiaannya karena kebencian.

MAKA MUNGKIN SIKAP PALING FILOSOFIS BUKANLAH BERTERIAK PALING KERAS DI TENGAH KERUMUNAN OPINI.
MELAINKAN BERANI MENJAGA AKAL TETAP JERNIH KETIKA DUNIA DIPENUHI EMOSI.

Sebab pencarian kebenaran membutuhkan keberanian yang lebih sunyi: keberanian untuk tidak ikut terseret arus fanatisme, keberanian untuk memandang manusia, di kedua sisi konflik, sebagai sesama yang sama-sama rapuh.

Dan di sanalah kebijaksanaan lahir, bukan dari kemarahan yang paling nyaring, melainkan dari hati yang cukup tenang untuk melihat realitas dengan utuh.


Agar kita berjumpa dalam Mencari Arti Mengejar Makna berikutnya