Home Opini KEPICIKAN TRUMP DALAM SERANGAN IRAN: RENCANA MEMANFAATKAN SUKU KURDI AKAN MENJADIKAN IRAN SEPERTI IR

KEPICIKAN TRUMP DALAM SERANGAN IRAN: RENCANA MEMANFAATKAN SUKU KURDI AKAN MENJADIKAN IRAN SEPERTI IR

74
0
SHARE
KEPICIKAN TRUMP DALAM SERANGAN IRAN: RENCANA MEMANFAATKAN SUKU KURDI AKAN MENJADIKAN IRAN SEPERTI IR

 

 

Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH. Wartawan Senior Jawa Timur.

 

PRESIDEN AMERIKA SERIKAT (AS) Donald Trump kembali menunjukkan pola kepemimpinan yang penuh kepicikan dalam menghadapi konflik dengan Iran. Alih-alih mengirimkan pasukan darat secara langsung untuk menggulingkan pemerintahan di Teheran, Trump memilih jalur yang sudah terbukti membawa kehancuran bagi negara-negara di Timur Tengah: memanfaatkan kelompok etnis dan bersenjata lokal, dalam hal ini suku Kurdi, dengan memberikan paket persenjataan dan dukungan.

 

Strategi yang sama pernah digunakan di Irak, Libya, dan Suriah, yang pada akhirnya menjadikan ketiga negara itu terpuruk dalam kekacauan yang berkepanjangan. Kini, ancaman yang sama mengancam Iran, dengan risiko konflik suku dan perpecahan yang lebih luas yang akan menjerat seluruh kawasan Timur Tengah. Yang lebih mengkhawatirkan, negara-negara sekutu yang dulu membantu Amerika menghancurkan Irak, Libya, dan Suriah kini menolak terlibat dalam konflik terhadap Iran. Hanya Israel yang tetap berdiri bersama AS dalam upaya ini.

 

RENCANA TRUMP: MEMANFAATKAN SUKU KURDI SEBAGAI PION PERANG

 

Sejak konflik antara AS-Israel dengan Iran memasuki hari kelima, berbagai laporan internasional mengungkapkan bahwa Trump telah menyetujui rencana untuk membantu persenjataan kelompok bersenjata Kurdi sebagai bagian dari upaya penggulingan rezim teokrasi Iran.

 

Aljazirah melaporkan bahwa dalam dua hari terakhir, Trump melakukan kontak genting dengan pemimpin kelompok bersenjata Kurdi di perbatasan Iran dan Irak untuk membahas kerjasama ini. Meskipun belum ada konfirmasi resmi tentang kesepakatan yang tercapai, keberadaan pejuang Kurdi yang telah mulai melakukan aktivitas darat di wilayah Iran dari daerah dekat perbatasan Irak – seperti yang dilaporkan oleh Jerusalem Post dengan konfirmasi dari pejabat Israel dan AS – menunjukkan bahwa rencana ini sudah memasuki tahap pelaksanaan.

 

Kelompok bersenjata Kurdi yang beroperasi di sepanjang perbatasan Iran-Irak dianggap sebagai salah satu kekuatan oposisi utama terhadap pemerintah Teheran, dan sejarah menunjukkan bahwa mereka kerap menjadi alat bagi kepentingan luar negeri.

 

SEJARAH KELAM PEMANFAATAN SUKU KURDI OLEH AS

 

Suku Kurdi merupakan salah satu etnis terbesar di Timur Tengah dengan jumlah sekitar 40 juta jiwa yang tersebar di Iran, Irak, Suriah, dan Turki. Mereka telah berjuang selama beberapa dekade untuk mendapatkan pengakuan atau membentuk negara sendiri bernama Kurdistan, namun impian tersebut belum pernah terwujud. AS dengan cermat memanfaatkan kondisi politik yang tidak menguntungkan ini dengan memberikan pendanaan dan persenjataan untuk menjadikannya sebagai tentara perang proksi.

 

Pada tahun 1991, Washington mengklaim melindungi Kurdi di Irak dengan larangan penerbangan bagi rezim Saddam Hussein, namun ketika pemberontakan Kurdi berujung kegagalan, AS meninggalkan mereka untuk menjadi target pembantaian. Pada tahun 2003, Kurdi kembali dipergunakan sebagai bagian dari pasukan darat dalam invasi AS yang menggulingkan Saddam Hussein, dengan dukungan dari beberapa negara sekutu Eropa.

 

Di Suriah, CIA mendanai dan mempersenjatai kelompok Kurdi yang tergabung dalam Unit Perlindungan Rakyat (YPG) untuk menggulingkan Presiden Bashar al-Assad, meskipun kelompok ini memiliki hubungan erat dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dicap teroris oleh Turki. Setelah berhasil menggulingkan Assad, AS malah membujuk kelompok Kurdi untuk menerima bekas militan ISIS sebagai Presiden Suriah, menunjukkan bahwa kepentingan Amerika selalu berada di atas nasib suku Kurdi yang telah berkorban banyak nyawa.

 

STRATEGI TRUMP AKAN MEMBAWA KEKACAUAN YANG LEBIH LUAS

 

Analisis keamanan dari Chatham House, Neil Quillian, menilai bahwa masuknya oposisi Kurdi dalam konflik AS-Israel dengan Iran akan menjadi ancaman serius bagi stabilitas kawasan. Menurutnya, langkah ini akan membuka babak baru konflik suku minoritas dengan militer Iran dan memicu konflik domestik yang meluas.

 

"Pendekatan Trump untuk mengubah rezim di Iran sangat bersifat pribadi dan telah dipikirkan dengan sangat buruk," ujar Quillian. Dia menambahkan bahwa rencana mempersenjatai Kurdi akan mengadu domba kelompok oposisi dengan rezim di Teheran, dan seperti halnya di Irak, Libya, dan Suriah, AS akan lari dari tanggung jawab dan meninggalkan kekacauan yang tersisa.

 

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) telah menyadari rencana ini dan beberapa kali melakukan pemboman terhadap wilayah Kurdi di perbatasan barat Iran untuk memutus komunikasi mereka dengan pihak luar. Selain itu, kebijakan Trump ini juga berpotensi menimbulkan konflik baru dengan negara-negara tetangga seperti Turki dan Irak, yang memiliki kepentingan sendiri terkait keberadaan suku Kurdi di wilayah mereka.

 

POLANYA SAMA, TAPI TAK ADA SEKUTU YANG MAU TERLIBAT

 

Strategi yang digunakan Trump terhadap Iran tidak berbeda dengan apa yang terjadi di Irak, Libya, dan Suriah. Pada tahun 2003, invasi AS ke Irak dengan dalih memburu senjata pemusnah massal akhirnya menggulingkan Saddam Hussein dan menjadikan Irak terpuruk dalam kekacauan berkepanjangan, dengan konflik antar suku yang tak kunjung usai. Di Libya, intervensi militer Barat yang didukung AS pada tahun 2011 menggulingkan Muammar Gaddafi, namun negara itu kini terpecah dan dikuasai oleh berbagai kelompok bersenjata.

 

Pada konflik sebelumnya, AS mendapatkan dukungan dari negara-negara seperti Inggris, Prancis, dan beberapa negara Eropa lainnya. Namun kini, setelah melihat dampak buruk yang ditimbulkan oleh intervensi mereka di masa lalu, negara-negara sekutu tersebut menolak terlibat dalam upaya menggulingkan pemerintahan Iran. Hanya Israel yang tetap menjadi sekutu setia AS dalam konflik ini.

 

Dalam kasus sebelumnya, AS mengklaim bertujuan untuk membawa demokrasi dan kebebasan, namun pada kenyataannya hanya meninggalkan kehancuran, kemiskinan, dan konflik yang tak berkesudahan. Kini, rencana yang sama akan diterapkan pada Iran – memanfaatkan perpecahan internal, mempersenjatai kelompok oposisi, dan menjadikannya negara yang terpecah belah.

 

Trump bahkan diduga memiliki rencana untuk membunuh semua calon pengganti pemimpin Iran yang telah meninggal dalam serangan awal, menunjukkan bahwa upaya ini bukan hanya tentang pergantian rezim, tetapi juga menghancurkan struktur kekuasaan Iran secara total agar tidak mampu bangkit kembali.

 

Kepicikan Presiden Donald Trump dalam menangani konflik dengan Iran tidak dapat disembunyikan lagi. Strategi memanfaatkan suku Kurdi sebagai pion perang bukanlah solusi yang cerdas, melainkan pola berbahaya yang telah terbukti membawa kehancuran bagi negara-negara di Timur Tengah. Bahkan negara-negara yang dulu mendukung langkah-langkah AS kini menyadari bahaya yang akan muncul dan memilih menjauhi konflik ini.

 

Kita harus menyadari bahwa kepentingan AS dan Israel di balik serangan terhadap Iran bukanlah untuk kebaikan rakyat Iran atau perdamaian kawasan, melainkan untuk menguasai sumber daya alam dan menjadikan Timur Tengah sebagai wilayah yang terkendali. Negara-negara muslim di seluruh dunia harus bersatu dan tidak sampai mau dihasut. Jangan biarkan sejarah Irak dan Libya terulang di Iran atau negara muslim lainnya.

 

Mari kita tegakkan prinsip persatuan umat Islam, dukung upaya penyelesaian konflik melalui jalur damai dan hukum internasional, serta tekankan pentingnya menghormati kedaulatan setiap negara. Hanya dengan cara itu kita dapat mencegah kehancuran lebih lanjut dan membangun masa depan yang lebih baik.*Wallahu A'lam Bisshawab*