Home Opini Malioboro Yang Rapi Tapi Hampa

Malioboro Yang Rapi Tapi Hampa

16
0
SHARE
Malioboro Yang Rapi Tapi Hampa

By Yani Andoko.


Malioboro pascarelokasi terlihat begitu rapi. Trotoar mengilap, kios-kios seragam dengan cat senada, dan lampu-lampu taman berjejak estetik. Namun di balik kemegahan fisik itu, banyak wisatawan yang pulang dengan perasaan ganjil. Seperti kehilangan sesuatu yang dulu membuat Jogja terasa berbeda.
"Seperti foodcourt di daerah lain," kata seorang teman usai liburan ke Jogja. "Tempatnya rapi, bersih, tapi nggak ada yang istimewa. Sama seperti tempat wisata di kota lain."
Keluhan ini bukan sekadar nostalgia. Ini alarm bahwa Yogyakarta sedang kehilangan jati dirinya.
Sejak 2022, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta merelokasi ribuan Pedagang Kaki Lima dari trotoar Malioboro ke Teras Malioboro 1 dan 2. Alasan utamanya mulia : mengembalikan fungsi trotoar untuk pejalan kaki, menciptakan kota yang lebih manusiawi, dan menaikkan kelas pedagang.
Secara fisik, tujuannya tercapai. Trotoar kini lapang. Disabilitas bisa melintas dengan nyaman. Sampah lebih terkelola. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo bahkan menyebut pendekatan relokasi ini sebagai bentuk "emong warga" yang manusiawi.

Tapi pertanyaannya: manusiawi versi siapa?
Hasil penelitian UGM dan pemberitaan media masa menunjukkan, omzet pedagang turun drastis bahkan hingga 30 persen lebih sepi. Penyebabnya klasik: akses bus wisata tak diarahkan ke lokasi baru, parkir sulit, dan pengunjung enggan berjalan jauh. Pedagang yang konon "dinaikkan kelasnya" justru kehilangan pembeli.
Namun, yang lebih parah dari kerugian materi adalah hilangnya "ruang sosial" yang selama puluhan tahun menjadi nyawa Malioboro.

Tempat seperti Malioboro merupakan teater Kehidupan yang tergusur
Para budayawan, termasuk almarhum Y.B. Mangunwijaya, sejak 1973 sudah mengingatkan bahwa Malioboro bukan sekadar jalan. Ia adalah "alun-alun" milik seluruh warga. Di sinilah semua lapisan masyarakat bertemu, berinteraksi, dan menciptakan kehangatan tanpa sekat.
Dulu, berjalan di Malioboro adalah pengalaman teater. Tidak ada skrip, tidak ada sutradara. Nenek penjual wedang jahe bisa bercanda dengan turis asing. Anak kecil pengamen bergabung dengan mahasiswa yang memetik gitar. Tawar-menawar kaos berlangsung alot, tapi diwarnai tawa. Itulah "teater kehidupan" yang membuat Jogja berbeda dari kota lain.
Sekarang, teater itu bubar. Aktor-aktornya (para PKL) dipindahkan ke panggung baru yang steril. Penonton (wisatawan) hanya bisa melihat dari trotoar yang rapi. Dialog spontan berubah jadi transaksi formal. Suasana yang dulu hangat dan cair, kini dingin dan kaku.
Maka tak heran jika banyak pengunjung merasa Malioboro kini "sama saja" dengan kawasan wisata di kota lain. Homogenisasi telah terjadi. Jogja tampil dengan topeng yang sama seperti Bandung, Surabaya, atau mal-mal di mana pun.

Ironi "Manusiawi" Memang
Pemerintah bangga dengan kerapian fisik. Trotoar lebar, los rapi, fasilitas lengkap. Itu memang kemajuan. Tapi kota yang manusiawi tidak hanya soal beton dan cat. Kota yang manusiawi adalah kota yang menghidupkan interaksi warganya.
Definisi "manusiawi" yang dipakai pemerintah tampaknya terlalu sempit: manusia punya kaki, jadi harus ada trotoar. Manusia punya mata, jadi pemandangan harus rapi. Manusia punya hidung, jadi harus bebas bau.
Padahal, manusia juga punya hati yang butuh kehangatan. Manusia butuh interaksi spontan, butuh tawa dengan orang asing, butuh pengalaman unik yang tak terlupakan. Manusia juga butuh makan dari hasil dagangan.

Saat pemerintah memisahkan pedagang ke dalam los dan membersihkan trotoar dari interaksi, mereka telah membunuh "rasa" yang selama ini menjadi daya tarik utama Malioboro. Yang tersisa hanya "rupa" yang cantik, tapi hampa.
Bukan berarti penataan itu salah. Trotoar yang nyaman dan kawasan bersih adalah kebutuhan. Tapi penataan tak boleh dilakukan dengan memotong akar sejarah dan membuang kehangatan sosial.
Pemerintah perlu belajar dari kritik yang muncul. Jangan hanya puas dengan laporan keberhasilan fisik. Dengarkan pedagang yang omzetnya jeblok. Dengarkan wisatawan yang merasa kehilangan pengalaman otentik. Hidupkan kembali ruang-ruang interaksi misalnya dengan menyediakan area khusus untuk pedagang kaki lima di pinggir trotoar secara bergilir, atau mengintegrasikan los baru dengan kegiatan budaya yang menarik.

Malioboro adalah cermin wajah Yogyakarta. Jika yang tampak hanya kerapian fisik tanpa kehangatan, maka Jogja tak lebih dari kota wisata biasa. Tapi jika "rasa" bisa dihidupkan kembali di tengah "rupa" yang baru, maka Malioboro akan tetap istimewa.
Karena pada akhirnya, orang datang ke Jogja bukan untuk melihat trotoar lebar. Mereka datang untuk merasakan sesuatu yang tak bisa ditemukan di kota lain: kehangatan yang lahir dari interaksi manusia. Dan itu, tak bisa digantikan oleh cat seragam atau lampu estetik mana pun.


                  Batu, 1 Januari 2026