Home Opini Merefleksikan Alquran Sebagai Sumber Utama Pendidikan

Merefleksikan Alquran Sebagai Sumber Utama Pendidikan

Oleh: Maksis Sakhabi (Ketua ICMI Kabupaten Tangerang)

26
0
SHARE
Merefleksikan Alquran Sebagai Sumber Utama Pendidikan

17 Ramadhan Al-Qur’an diturunkan. Kitab suci ummat Islam yang dijadikan pedoman sekaligus petunjuk (hudan) bagi manusia (annas). Al-Qur’an berisi ajaran-ajaran yang menuntun manusia mengenali dirinya (an-nafs), Tuhannya (Rabb) dan alam (tempat tinggal) nya. Seluruh kalam yang terkandung di dalamnya menjelaskan hukum ihwal kehidupan. Dari yang dilarang, dianjurkan, sampai yang diwajibkan. Begitu juga ihwal aqidah, ibadah dan nasihah. Artinya Al Qur’an sumber utama pendidikan manusia.

Ayat yang pertama kali diturunkan yaitu ayat 1 sampai 5 dari Surah Al ‘Alaq, yakni Iqra' bismi rabbikal-la?? khalaq. Ayat ini memiliki arti Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!. Ada makna general dalam kalimat Iqra’ (bacalah). Bentuk fi’lul amr, yang menunjukkan perintah. Perintah dari Rabb kepada manusia untuk mengenali segala sesuatu yang ada di alam raya ini. Maka, kata Rabb kemudian bertransformasi menjadi tarbiyah (pendidikan). Rabbul ‘alamin berarti Tuhan yang mendidik makhluk alam dan Tuhan yang mengajari manusia.

Manusia kemudian oleh Allah diangkat sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi (QS.Al Baqoroh: 30) yang mempunyai tugas memakmurkan (mengelola) bumi, menegakkan keadilan, memisahkan yang hak dan bathil, memimpin makhluk bumi. Keadaan ini disebabkan karena manusia merupakan objek yang diperintahkan Allah untuk membaca. Membaca berarti memahami. Memahami berarti meneliti, hingga kemudian sampailah pada pengetahuan.

Al Qur’an sebagai sumber utama pendidikan menjadi kokoh manakala menjelaskan yang hak dan bathil, yang berilmu dan tidak berilmu. Sebab, di setiap suatu urusan bisa ditakar dengan dua mata pisau tadi, yakni hak dan batil, benar dan salah, maslahat dan mudhorot. Maka, manusia harus mempelajari untuk bisa memisahkan terminologi keadaan tersebut. Singkatnya adalah, Al Qur’an memberikan sumber utama kepada manusia dalam menjelajahi ilmu pengetahuan di alam raya ini. QS. Azzumar:9 menjelaskan bahwa Allah membedakan antara yang berilmu dan orang tidak berilmu.

 

Ujian Akal manusia

Manusia ketika melihat alam raya tak selalu dapat dimengerti dengan nalar akal pikirannya. Tentu ia memiliki keterbatasan. Karenanya, manusia membutuhkan pegangan dalam memutuskan sesuatu. Bertnand Russel menyimpulkan bahwa merefleksikan rasionalitas manusia atas seluruh keadaan tidak bisa berdiri sendiri dengan mengandalkan akalnya semata. Tetapi perlu bantuan pendalaman berpikir yang dalam prosesnya membutuhkan ayat-ayat Tuhan. Ini tentang keimanan. Disinilah tempat ujian bagi akal manusia.

Ayat Tuhan atau kalam Allah yang menjadi isi Al-Quran merupakan sarana pendalaman berpikir (deep thinking) yang kemudian berbuah menjadi keimanan. Disini aktivitas akal menjalar kepada tafakkur (merenung), tadabbur (memahami makna mendalam), ta’aqqul (berpikir logis) yang dituntun oleh kalam Allah agar memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta ini. Maka, dikatakan berpikir dalam Islam bertujuan untuk menemukan pengetahuan yang tidak hanya mengandalkan rasionalitas, tetapi integrasi antara ilmu dan iman.

Keterbatasan akal manusia dalam mengungkap kebesaran Allah ditopang dengan Iman. Dalam kajian filsafat Islam, Al Ghazali dan Muhamad Abduh mengurai keimanan sebagai bentuk komitmen. Artinya, Iman bukan sekedar percaya tanpa bukti. Maka untuk mewujudkannya diperlukan komitmen mendalam dan harapan. Iman tidak sempurna tanpa diwujudkan dalam amal perbuatan. Maka, iman bersifat fluktuatif, bisa bertambah bisa berkurang, dikarenakan seberapa jauh komitmen dan harapan seseorang tertuju untuk menerapkan keimanan.

 

Pendidikan semesta

Al-Qur’an sebagaimana ketika diturunkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW adalah berbentuk perintah. Untuk apa? Untuk belajar, mengenali, memahami, mengkaji, mengamalkan, memberikan dampak. Proses pendidikan yang diajarkan dalam Al-Quran yaitu mengenali, memahami, mengkaji, mengamalkan dan mengajarkan (berdampak). Ini ditujukan untuk manusia seluruh alam, sebagaimana disebut sebagai hudan linnnasi (petunjuk bagi manusia) (QS. Al-Baqoroh:185). Maka pendidikan yang dikonsepkan dalam Al-Quran adalah pendidikan untuk seluruh alam.

Kedudukan manusia dalam kacamata Al-Quran adalah objek yang diberi keadilan oleh Allah untuk mendapatkan ilmu. Kemudian, setiap orang akan berlomba mencari ilmu pengetahuan sampai ia menemukan apa yang menjadi tujuannya. Maka, Allah menyebut tidakkah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? (QS. Azzumar:9). Ini menggambarkan betapa manusia diperintahkan Tuhan untuk mencari kebenaran (ilmu pengetahuan) hingga kemudian ia menemukan siapa dirinya dan siapa Tuhannya.

Maka dengan demikian, di era modern saat ini, relevansi Al-Quran sebagai sumber utama pendidikan sangat memberi makna bagi perkembangan zaman. Al-Quran mengajarkan dasar-dasar ilmu yang kemudian berkembang menjadi cabang-cabang ilmu di antara manusia-manusia. Dan, tidaklah selalu bicara tasawuf, tauhid, fiqih, tetapi juga relevan dengan teknologi, digitalisasi, informatika dan sebagainya.

Beberapa contoh perkembangan sains yang dijelaskan dalam Al-Quran, yaitu teori Big Bang (QS.Al Anbiya:30), Fenomena laut (QS. Arrahman:19-20), Garis Edar Matahari dan Bulan (QS.Al Anbiya:33), Embriologi (QS.Al Mukminun:12-14) dan masih banyak lagi relevansi sains dalam Al-Quran.

17 Ramadhan sering disebut sebagai momentum penting ummat Islam, di mana Al Quran, kitab suci ummat Islam diturunkan untuk manusia. Oleh karena itu, nuzulul qur’an tidak semata dijadikan sebagai ruang ibadah ummat Islam, namun perlu kita refleksikan sebagai ruang belajar untuk manusia sampai ia menemukan kebenaran hakiki yakni beriman kepada Allah SWT. Bagi ummat Islam pun harus terus timbul semangat belajar untuk mendalami keimanan kita kepada Allah SWT. Wallahu a’lam!